• Mayoritas Belut dari Luar Daerah
GODEAN– Kecamatan Godean secara resmi telah memiliki pusat kuliner belut di Desa Sidoluhur. Sarana itu untuk mewadahi sedikitnya 30 pedagang belut yang semula menjajakan produk di tepi jalan, di luar Pasar Godean. Meski menjadi sentra keripik belut, Godean bukanlah penghasil produk hewan berkulit licin itu. Bahkan, belut bukan sebagai produk unggulan.
Kades Sidoluhur Hernawan Yudanto mengungkapkan, hampir semua pedagang keripik belut mendatangkan bahan baku dari luar daerah, khususnya dari Malang, Jawa Timur. “Tiap tahun, Godean kehilangan sektiar Rp 3 miliar untuk beli bahan baku keripik belut,” ungkap Hernawan kemarin (12/3).
Nilai itu cukup fantastis mengingat sentra belut merupakan usaha kecil mikro yang berkembang di Godean selama bertahun-tahun. “Ibaratnya, pedagang di sini itu hanya buruh menggoreng,” sambungnya.
Hernawan menyayangkan kondisi itu. Namun, dia mengakui bahwa belut susah dikembangkan di wilayah Godean. Hernawan sendiri mengaku pernah beternak belut tapi gagal. “Belut itu kanibal, saat panen hasilnya tak pernah maksimal,” bebernya.
Hernawan berharap, kedepan wilayah Godean bisa dikembangkan sebagai pusat peternakan belut. Dan itu butuh perhatian dari pemerintah kabupaten. Apalagi, pemkab telah mewacanakan Godean menjadi salah satu ikon sebagai sentra produk olahan belut. “Kalau bisa, pemerintah menciptakan potensi ini (budidaya belut). Eman-eman, lebih bagus jika uang miliaran itu bisa berputar di kawasan sendiri,” ucapnya.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Sleman Widi Sutikno membenarkan jika belut bukan produk unggulan. Alsannya, perawatan dan pemeliharaannya susah. Menurut Widi, pedagang cenderung berorientasi pada pasar, sedangkan petani kesulitan budidaya karena pakan belut mahal dan sulit didapat di pasaran. Berbeda dengan nila atau gurame yang bisa diberi pakan alternatif berupa sayuran, selain pakan utama berupa pelet. “Itu yang menyebabkan budidaya belut tak menarik bagi petani di Sleman,” ungkapnya.
Menurut Widi, Godean terlanjur menjadi trade mark sentra keripik belut meski ketersediaan bahan baku belum cukup. Menurut dia, hal itu sebatas perhitungan bisnis. Widi berpendapat, sejak Godean menjadi sentra pasar belut, seharusnya diikuti dengan suplai bahan baku. Tapi itu tak terjadi dan sulit terwujud karena alasan tersebut. “Kalau melihat kebutuhannya memang besar,” katanya.
Sementara itu, sejak pindah ke pusat kuliner belut, hampir semua pedagang mengeluh mengalami penurunan omset. Di tempat lama, mereka bisa menjual antara 7-8 kilogram keripik per hari. Di pusat kuliner belut itu tak terjadi. “Kadang kosong (tak laku). Nggak mesti hasilnya,” beber Lies, salah seorang penjaga kios belut.
Lies menduga, kondisi itu lantaran konsumen belum mengenal pusat kuliner belut, yang dihuni pedagang sejak Selasa (4/3). Di sisi lain, saat berjualan di tepi jalan, banyak calon pembeli yang sekadar mampir saat melintas di Jalan Godean. Terutama saat malam hari. “Ya, mungkin banyak konsumen belum tahu. Ini juga masih babat alas,” tutur warga Kowanan, Sidoagung, Godean ini.(yog/din)