JOGJA – Hujan abu vulkanis akibat letusan Gunung Kelud di Jawa Timur ternyata masih berimbas hingga sekarang. Sekitar sebulan setelah hujan abu itu, ternyata masih banyak debu yang berada di permukiman.
Bahkan, dari hasil pengujian yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja menyebutkan debu itu berbahaya bagi kesehatan. Hasil dari uji petik di beberapa tempat diketahui kualitas debu mencapai 600 ug (mikrogram) per meter kubik.
Padahal, ambang batas debu disebut tidak berbahaya adalah 240 mikrogram/meterkubik. Debu dengan kualitas demikian baru disebut normal atau tidak membahayakan kesehatan. Manusia bisa beraktivitas normal di tempat tersebut.
Salah satu tempat yang menjadi lokasi ujik petik debu vulkanis erupsi Gunung Kelud adalah di sekitar kompleks pendidikan Balapan, Gondokusuman, Jogja. “Kalau kualitas yang lain masih normal,” tutur Kepala Seksi Pemulihan Lingkungan Hidup BLH Kota Jogja Peter Lawoasal kemarin (12/3).
Ia menjelaskan, dari uji sampel yang dilakukan rata-rata kualitas debu masih di atas ambang batas. Itu ditemukan di Balapan, Gondomanan, Kraton, dan permukiman padat penduduk lain.
Belum normalnya kualitas debu itu, imbuhan Peter, karena debu vulkanis di beberapa tempat belum dibersihkan. Debu itu beterbangan setiap ada embusan angin. Debu yang terbang itu dapat mengganggu pernapasan.
“Ditambah dengan tidak ada hujan beberapa hari terakhir,” jelasnya.
Peter menyatakan, saat ini memasuki pancaroba. Ini menambah kekhawatiran kian buruknya kualitas debu. “Seharusnya memang kembali disiram dengan air. Apalagi debu yang berada di atas genteng dan daun,” ujarnya.
Tanpa disiram air, abu vulkanis itu potensial menyebar ke berbagai arah. “Sekali ada embusan angin, debu langsung menyebar. Debu di permukiman dan sekolah harus segera ditangani,” terangnya.
Kepala Badan Penggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Agus Winarto menambahkan, sejak masa darurat dicabut beberapa pekan lalu kewenangan penanggulangan terkait debu vulkanis berada di kecamatan. Meski demikiian, BPBD masih bersedia menindaklanjuti jika ada permintaan dari kecamatan.
“Kalau masih ada yang belum dibersihkan, meminta kecamatan agar diteruskan ke kami,” jelasnya.
Ia menegaskan, proses pembersihan debu masih berjalan. Masyarakat tetap diimbau membersihkan abu di lingkungan masing-masing. “Tanggap darurat sudah tidak berlaku bukan berarti tidak ada imbauan untuk kerja bakti,” terang mantan camat Umbulharjo ini.
Jika membutuhkan mesin penyemprot air, kata dia, silakan menghubungi BPBD. “Kami masih memiliki mesin diesel untuk menyemprotkan air, ” lanjutnya. (eri/amd)