JOGJA – Pertumbuhan atau penyaluran kredit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di DIJ diperkirakan tidak akan terpengaruh di tahun politik ini. Hal itu karena mayoritas pembiayaan BPR DIJ untuk sektor mikro kecil, bukan mendanai para calon legislatif (caleg).
Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) DIJ Tedy Alamsyah menjelaskan secara umum pertumbuhan BPR pada awal 2014 mulai Januari sampai Februari bergerak melambat. Tetapi pertumbuhan diperkirakan baru bergerak memasuki bulan ketiga dan seterusnya. Dengan target tahun ini tumbuh di angka 16 sampai dengan 17 persen.
Menurutnya BPR sudah mengalami banyak fase ketidakstabilan ekonomi dan politik yang sangat buruk, namun kenyataannya BPR tetap bisa bertahan dan tumbuh. “Kita prediksi kredit tumbuh hingga 17 persen, Dana Pihak Ketiga (DPK) di angka 19 persen dan menjaga angka Non Performing Loan (NPL) atau kredit macetnya pada level 5 persen,” tutur Tedy kemarin (12/3).
Menurutnya pertumbuhan kredit tahun politik ini hamipir sama dengan tahun lalu. Meskipun ada kekhawatiran tingginya pengajuan dana atau kredit untuk Pemilu, seperti untuk kampanye caleg dan lain-lain. Tetapi hal ini tidak mempengaruhi lonjakan kredit BPR DIJ.
“BPR tidak bisa membiayai kredit untuk para caleg karena kreditnya tidak bisa dianalisa. BPR juga memegang prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit wajib,” papar Tedy yang juga menjabat Direktur Utama BPR Danagung Bakti tersebut.
Perbarindo DIJ sendiri, justru optimistis pesta demokrasi bakal memberikan stimulus kredit yang positif. Asalkan selama iklim politik dan ekonomi terjaga kondusif. Apabila terjadi instabilitas, dolar terus menguat, BI Rate dan tingkat penjamin bunga naik tentunya akan menjadi hambatan pertumbuhan pembiayaan. Untuk itu, selama kondusif dan keadaan perekonomian makro stabil, BPR DIJ yakin tumbuh. “Dampak multiplier effect-nya seperti pembiayaan bisnis sablon, stiker, kaus, spanduk dan atribut kampanye jelas tinggi,” ungkapnya. (pra/ila)