PUNCAK musim durian di Purworejo sudah mulai berlalu. Namun, penikmatnya masih terus berbondong-bondong memburunya. Salah satu pusat perburuan buah durian di Purworejo ada di sepanjang Jalan Purworejo-Jogjakarta, tepatnya di Kecamatan Bagelen. Di sini, masih ada puluhan lapak pedagang yang menjajakan buah yang memiliki duri tajam, namun bercita rasa yang nikmat itu.
Salah satu penjual buah durian Mardiani, 55, warga Bagelen Krajan RT 03/RW 01 mengungkapkan, sejak awal musim durian pada Desember 2013, ia menjual buah durian 150 – 200 butir buah durian per hari berbagai jenis, ukuran, dan varian harga.
“Hari ini, saya sudah jual 150 butir buah durian, stok dari produsen (petani,Red) mulai menipis, namun masih ada. Harganya juga masih standar, antara Rp 15 ribu – Rp 100 ribu per butir, sesuai ukuran dan kualitasnya,” kata Mardiani, kemarin (13/3).
Mardiani melanjutkan, harga buah durian yang dijualnya relatif lebih mahal dibanding buah durian di tempat atau kota lain. Mesku begitu, ia berani menjanjikan kualitas buah durian yang dijualnya.
“Kebanyakan penjual buah durian di sini memberikan garansi, termasuk saya. Kalau tidak enak jangan dibayar. Varian rasa kami juga sudah hapal, mau yang manis, agak pahit, dan getir bisa kami pilihkan. Kalau tidak sesuai yang diharapkan boleh kami tukar, itu yang membuat pembeli datang dan datang lagi ke sini,” ungkapnya.
Dituturkan Mardiani, pernah suatu hari ada pembeli luar kota yang ngomel, karena menilai harga buah durian di Bagelen mahal.
“Tidak hanya ngomel, ia marah karena harus membayar buah durian yang sudah terlanjur dimakannya. Dengan setengah mengumpat ia pergi. Beberapa hari kemudian, ia mampir lagi dan mengaku saat beli di tempat lain rasanya beda. Akhirnya, malah memborong banyak untuk oleh-oleh,” tuturnya.
Penjual buah durian lain, Eviana Listanti, 24, yang memajang durian tak jauh dari Mardiani memiliki pengakuan beda. Untuk menambah referensi pencinta kuliner buah durian, ia mengoplos buah durian dengan dawet ayu atau dawet ireng buatannya. Kebetulan, ia juga menjajakan es dawet di lapak durian miliknya.
“Saya menyebutnya oplosan Durwet. Pertama, saya menawarkan banyak yang bilang sayang duriannya, rasanya ntar jadi hilang. Ketika mencoba mengoplosnya, justru banyak yang ketagihan. Kalau umumnya dicampur kopi. Tetapi dengan dawet juga mak nyuss…! kalau tidak percaya silahkan coba,” selorohnya.
Oplosan darwet memiliki sensasi rasa yang berbeda. Yakni, paduan kesegaran kuah dan bulir dawet, bercampur legit dan gurih daging buah durian memunculkan paduan dan varian rasa yang unik. Segar, manis dan legit bersatu menjadi satu, seolah lumer dan pecah di mulut.
“Saya tiga kali datang ke sini, jauh-jauh dari Bantul. Saya sengaja ingin makan durian di sini. Pertama kali, saya sempat ditawari durwet, namun merasa bimbang. Karena yang saya pingin ya cita rasa duriannya bukan dawetnya. Setelah coba, saya ketagihan. Besok boleh coba lagi. Hari ini, kenyangnya minta ampun. Top tenan iki,” kata Anggia, 19, gadis asli Sewon, Bantul, Jogjakarta.
Lain lagi dengan Fina, 19, rekan Anggia. Ia mengaku, kenikmatan yang senada. Sembari bergumam, matanya merem melek menikmati cita rasa durwet yang baru disajikan.
“Ini menu yang jauh berbeda, kudapan dan minuman dijadikan satu. Tetapi cucok banget. Durian di sini, rasanya beda. Pernah satu kali coba beli di Jogja, dapetnya zoong, anyep, dan ga ada rasanya. Murah sih tapi ga berkualitas,” katanya.
Penyajian oplosan durwet cukup simple. Caranya, satu mangkuk es dawet dimasukkan satu biji buah durian yang memiliki daging yang tebal. Kalau habis tambah lagi. Satu buah durian bisa dinikmati dengan semangkuk es dawet.
Nek ngene iki rasana pengin mrene terus rasane. Makan durian enak kalau dimakan di tempat. Alasannya, kalau kurang bisa nambah lagi. Maklum rumah saya jauh,” katanya.
Eviana Listanti menyahut, setelah mencoba meracik oplosan durwet, omzet penjualan dawet buatannya jadi meningkat. Sehari, ia mampu menjual 300 mangkuk dawet setelah dioplos dengan buah durian.
“Lumayan lah, jadi perpaduan yang sukses saya buat. Durian laku, es dawetnya juga laris, namanya usaha dagang, tentu ada kalanya mendapat top omzet penjualan,” kata Eviana yang berjualan durian dan es dawet tahun ini.(*/hes)