Sejarah kereta api di Indonesia muncul sejak zaman penjajahan Belanda tahun 1890-an. Inilah yang diangkat Bentara Budaya Yogyakarta dengan menggelar pameran foto dan train modelling bertajuk Kereta Malam.
DWI AGUS, Jogja
Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) hari Selasa malam (11/3) penuh oleh manusia dari anak-anak hingga dewasa. Gedung yang biasanya digunakan untuk pameran karya seni kali ini tampil berbeda. Bukanlah lukisan atau patung, namun foto dan beberapa model kereta api.
Rupanya malam itu, BBY sedang menjadi saksi berkumpulnya para pecinta kereta api. Pameran bertajuk Kereta Malam itu tidak hanya sekadar pameran biasa. Berbagai foto dan video dokumentasi bahkan hingga model kereta api tersaji secara apik di gedung BBY ini.
Pameran yang dilaksanakan hingga 19 Maret mendatang inipun turut menggandeng dua komunitas pecinta kereta. Keduanya adalah Indonesia Trains Modelling Community (ITMC) dan Roemah Toea. Perwakilan BBY, Hermanu mengungkapkan dua komunitas ini memiliki andil besar dalam mengungkap sejarah perkeretaapian Indonesia.
“Perannya besar untuk kedua komunitas ini, Roemah Toea berperan melacak jalur mati kereta api jaman dulu. Lalu oleh ITMC diwujudkan menjadi Train Modelling, melalui diorama lengkap dengan jalur dan miniatur kereta apinya,” kata Hermanu (11/3).
Pameran kali inipun terbilang unik karena tidak hanya menyajikan data fakta sejarah kereta api di Indonesia. Adapula foto-foto kereta lawas yang dipamerkan di dinding-dinding BBY, selain itu ada pula video dokumenter hitam putih tentang peran kereta api pada jaman dahulu. Meski hanya berwujud repro namun terlihat jelas bentuk asli dari lokomotif dan gerbong pada setiap jamannya.
Selain itu pameran kali inipun memajang berbagai miniatur kereta api yang didominasi lokomotif lawas. Adapula kereta model dari luar negeri seperti Santa Fe dari USA yang dipajang dalam sebuah diorama. Beberapa di antaranya adalah mainan lawas namun adapula model kereta api yang dibuat mirip dengan aslinya.
Ketua ITMC, Kunto Wibisono mengungkapkan diorama yang dipajang merupakan skala kecil. Meski begitu dari track dan jenis gerbongnya sangat mirip dengan bentuk aslinya. Uintuk pameran kali ini, ITMC pun menghadirkan atmosfer kota industri.
“Model kereta api pun tidak hanya sekadar menjadi mainan anak-anak, orang dewasa pun turut menggeluti hobi ini. Dalam menyusun sebuah track pun memerlukan pertimbangan yang matang. Belum lagi mengatur jalur kereta agar tidak bertabrakan,” kata Kunto.
Dalam pameran ini ITMC menghadirkan sebuah diorama kereta api yang cukup besar dengan ukuran panjang 3 meter dan lebar 2 meter. Dalam diorama ini selain kereta api juga dilengkapi dengan bangunan lawas, serta jembatan penghubung antar bukit.
Diorama inipun menggambarkan kondisi perkeretapian Indonesia pada waktu itu. Tentunya ini penting juga sebagai salah satu bagian sejarah Indonesia. Kunto menjabarkan jalur kereta api sangatlah penting karena sebagai jalur ekonomi, bahkan perjuangan saat Indonesia dilanda perang.
“Tujuannya bisa untuk sosialisasi ke masyarakat tentang sejarah perkeretaapian di Indonesia pada umumnya, dan di Jogjakarta pada khususnya. Selain itu juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga aset sejarah perekeretaapian yang ada,” kata Kunto.
Sementara itu peran Roemah Toea pun cukup besar dalam pameran ini. Dalam pameran ini, Roemah Toea menyajikan jalur-jalur mati yang sudah tidak berfungsi kembali. Jalur kereta api pun terbagi untuk industri dan juga perjuangan.
Roemah Toea pun telah melakukan observasi beberapa jalur kereta api non aktif. Seperti jalur Pare hingga Kediri, jalur kereta api non aktif Jogjakarta hingga Pundong, jalur kereta api nonaktif Jogjakarta hingga Sewugalur Kulonprogo, dan jalur kereta api non aktif Jogjakarta hingga Magelang.
Ragam cerita pun menghiasi perjuangan Roemah Toea dalam melakukan tracking jalur mati. Salah satu anggota Roemah Toea, Yoga Cokro Prawiro mengungkapkan untuk melakukan tracking dilakukan dengan berjalan kaki. Bahkan kelompok inipun harus berjibaku masuk pedesaan untuk melacak rel-rel tua yang sudah tertutup jejaknya.
“Banyak data visual dan juga aset perkeretaapian kuno di Indonesia, dan Jogjakarta khususnya hilang. Entah itu tertutup aspal, atau menjadi rumah tinggal atau beralih fungsi,” kata Yoga.
Yoga mengungkapkan tracking ini tidak hanya sekadar menjadi hobi semata. Kegiatan inipun bias melacak bagaimana jalur perdagangan atau industri Indonesia pada waktu itu. Bahkan jalur perjuangan para pejuang kemerdekaan pun terlihat dari besi-besi tua ini.
Seiring perkembangan waktu, banyak jalur kereta api yang mati. Hal ini karena jalur semakin tidak efektif juga jarang yang tidak produktif lagi. Bahkan gedung-gedung tua seperti stasiun pun mulai beralih fungsi menjadi bangunan lainnya.
“Ada yang jadi perumahan, ada yang jadi sekolah atau perkantoran namun ada juga yang masih bisa terlihat, meski tinggal puing-puing. Padahal nilai sejarahnya tinggi, seperti jalur rel dari selatan ke utara Jogja, yang merupakan jalur industri dan distribusi gula,” kata Yoga.
Salah satu bangunan stasiun lawas yang saat ini masih dimiliki Indonesia adalah stasiun kereta api Maguwoharjo lama. Bangunan yang masih kental nuansa lawasnya saat ini sudah tidak berfungsi. Meski begitu nilai-nilai sejarah masih terukir jelas di setiap bangunannya.
Yoga mengungkapkan stasiun ini merupakan salah satu dari dua bangunan stasiun lama yang masih bertahan. Roemah Toea yang juga bergerak dalam bidang obeservasi dan studi bangunan lawas pun tergerak merawat bangunan ini.
Caranya adalah dengan membersihkan secara rutin, dan melakukan perawatan rutin. Meski bukan lembaga pemerintah, namun menurut Yoga ini dilakukan atas dasar kesadaran. Ini karena menurut Roemah Toea bangunan ini termasuk dalam sejarah perkeretaapian Jogjakarta.
Dalam melakukan tugas tracking maupun perawatan, Roemah Toea pun kerap menemui berbagai kendala. Salah satunya adalah diusir warga karena disangka melakukan pendataan untuk relokasi sepanjang jalur kereta non aktif.
“Diusir secara halus karena dikira tugas mendata jalur yang saat ini dipakai sebagai perumahan. Dari sini pun sebenarnya sudah tercermin apa yang harus dilakukan. Tentunya pihak yang memiliki wewenang lebih besar dari kita mulai sadar untuk mendata jalur-jalur penting ini,” kata Yoga.(*/din)