JOGJA– Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Jogja terus berupaya menekan jumlah pengiriman sampah di tempat pembuangan akhir atau (TPA) Piyungan. Salah satu program yang terus digenjot adalah pembentukan bank sampah di setiap rukun warga (RW).
Kepala BLH Kota Jogja Irfan Susilo mengatakan, jumlah bank sampah yang ada saat ini baru 258 unit. Daalam waktu dua tahun ke depan, 617 RW diharus memiliki bank sampah. “Saat ini masih kurang 60 persen bank sampah di masyarakat,” kata Irfan Susilo kemarin (16/3).
Ia mencontohkan di salah satu daerah yang sudah memiliki bank sampah, baru tiga bulan tetapi sudah memiliki saldo Rp 6 juta. Dari pemilahan jenis sampah organik dan nonorganik warga dapat menjual barang bekas atau sampah melalui BLH atau pengepul. Warga juga memanfaatkan untuk dikelola sendiri menjadi kerajinan yang bernilai ekonomi.
Sedangkan untuk sampah organik, BLH melakukan pengelolaan sampah menjadi boiogas. Seperti sampah dari daun dimanfaatkan untuk biogas yang nantinya masuk ke dapur warga melalui pipa besi. “Tetapi saat ini masih melakukan kajian biogas tersebut apakah membahayakan bagi pengguna atau tidak,”jelasnya.
Usaha ini diharapkan efektif menekan volume sampah 15 hingga 20 ton per hari. Hingga Desember 2013 sampah yang harus dibuang ke Piyungan mencapai 224 ton per hari.
Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Lingkungan BLH Kota Jogja Ika Rostika mengatakan, dari tahun 2009 keberadaan bank sampah mampu mengurangi volume sampah yang dibuang ke Piyungan mencapai 320 ton per hari. Padahal alokasi anggaran yang selalu dikeluarkan pemkot untuk membayar pembuangan sampah ke Piyungan mencapai Rp 1,7 miliar untuk pengelolan sampah. “Sebelumya biaya pengelolaan sampah bisa mencapai Rp 1,9 miliar per tahun,”ungkapnya.(hrp/din).