MAGELANG – Penempatan kembali pedagang dari berbagai tempat penampungan ke Pasar Rejowinangun yang baru dibangun terus menuai persoalan. Kali ini, puluhan pedagang yang semula berjualan di Jalan Prawirokusuman, Tarumanegara, Jalan Kalingga, Jalan Sudirman, dan lainnya mengaku belum mendapat tempat di pasar yang baru tersebut. Sejak tanggal 12 dan 14 Maret lalu, mereka telah diminta pindah ke lokasi pasar baru. Tetapi, mereka belum bisa berjualan, karena disiapkan tempatnya.
“Saya belum mendapat tempat jualan di pasar baru ini. Sebelum kebakaran, saya jualan di depan gerbang pintu masuk pasar. Setelah kebakaran, saya berjualan di Jalan Mataram. Saat diminta pindah tanggal 12 Maret, saya kok belum mendapat tempat,” ungkap Riyani, kemarin (16/3).
Perempuan yang berjualan makanan buntil ini mengadu ke UPT Pasar Rejowinangun yang ada di lantai dua, pasar yang terbakar 26 Juni 2008.
“Setelah mengadu. Katanya disuruh ketemu Pak Joko (Sekretaris Dinas Pengelolaan Pasar, Red). Akhirnya, saya dapat tempat. Tapi masak ya harus mengadu dulu, baru dapat tempat. Dahulu saya ya sudah didata petugas dinas pasar berkali-kali,” jelas perempuan yang tinggal di Karanggading ini.
Selain Riyani, ada Supadmi yang berjualan alat-alat rumah tangga. Ia baru mendapat tempat pada Sabtu(15/3). Padahal, ia disuruh pindah sejak tangal 14 Maret.
“Saya baru dapat tempat setelah mengadu. Dulu, saya jualan di Jalan Sudirman, pascakebakaran,” ungkapnya.
Selain mereka berdua, Anggota Komisi C DPRD Kota Magelang Sriyanto juga mendapat aduan dari 11 pedagang Pasar Rejowinangun yang tidak mendapatkan tempat. Mereka merupakan korban kebakaran dan dulu pernah menempati Kompleks Pasar Rejowinangun.
“Mereka harusnya berhak mendapatkan los. Kenyataannya, sekarang kalah dengan orang-orang yang sebenarnya tidak punya jatah kios, tapi punya uang,” kritiknya.
Ke-11 pedagang itu, di antaranya Tri Punjungsari, pedagang pakaian asal Kelurahan Rejowinangun Utara dan Titin Suryadewi, pedagang aksesori asal Kelurahan Wates. Lalu, Sutinah warga Karanggading; Sarino Untung, pedagang kaos kaki; Partinah dan Fatimah, pedagang pakaian, asal Bandongan. Kemudian, Mudrikah, pedagang sandal; Ngatini, pedagang pakaian, asal Mertoyudan. Selain itu, Tri Luwarti dan Sri Sumarti, pedagang perabotan rumah tangga asal Secang.
Sriyanto meminta Pemkot Magelang memperhatikan hal tersebut. Prioritas penempatan harus ditujukan pada pedagang. Bukan pada pengusaha. Karena posisi los tidak diperjualbelikan.
“Semua untuk pedagang. Negara sudah membayarnya,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pengelola Pasar (DPP) Joko Budiono menyatakan, pihaknya memprioritaskan pedagang untuk penempatan di Pasar Rejowinangun. Kecenderungan beberapa pedagang yang belum mendapatkan los, diakui karena saat pendataan pada 2010 kemungkinan tidak terdaftar.
“Kami menempatkannya mengacu pada data. Mungkin mereka (pedagang, Red) yang belum mendapat tempat, karena mereka tidak masuk data,” katanya.
Ia berkomitmen memprioritaskan pedagang korban kebakaran mendapatkan los di Pasar Rejowinangun. Data tersebut akan dicocokkan dengan data di DPP.
“Kalau misalnya nama-nama mereka tetap tidak ada, akan diverifikasi. Termasuk meminta saksi yang mungkin beberapa orang yang juga pedagang,” imbuhnya.
Joko berjanji memberikan solusi atas persoalan tersebut. Karena, adanya pasar semimodern tersebut dibangun untuk para pedagang.
“Kalau memang pedagang, kami upayakan untuk difasilitasi. Ini kan (pasar, Red) milik pedagang. Kami akan memberi pelayanan terbaik,” janjinya.(dem/hes)