*Gelaran Konser Ayo Lawan di TBY
JOGJA – Musik tidak hanya berbicara tentang lirik, nada dan tempo, musik pun bisa menjadi alat yang ampuh untuk melihat kondisi sosial dan politik. Itu pula yang dilakukan Sri Krishna. Musisi yang akrab dipanggil Encik menggelar konser bertajuk Ayo Lawan di gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta Minggu malam (16/3).
Konser ini mengusung musik ala balada dengan mengedepankan lirik-lirik yang kritis. Encik menuturkan lirik-lirik dalam lagunya merupakan keseharian hidupnya. Bahkan keadaan sosial dan politik Indonesia pun banyak memberikan inspirasi musik dan lagunya.
“Ayo Lawan itu bercerita tentang rapuhnya Indonesia saat ini. Musuh tak lagi dari Negara lain, justru dari dalam sendiri,” jelasnya. Menurutnya, di Negara ini telah menjadi sarang para koruptor, dan tidak ada kata lain selain mengajak siapapun untuk melawan segala bentuk penggerogotan yang hendak menghancurkan bangsa ini.
Memasuki masa pemilihan para calon wakil rakyat bulan April mendatang, Encik pun berpesan agar tidak terlena. Belajar dari pengalaman sebelumnya dengan tidak hanya tergiur janji-janji palsu. Para pemilih lanjut Encik pun harus cerdas dalam melihat sepak terjang para calon wakil rakyat.
Menurutnya, sebagai bagian dari Indonesia sudah sewajibnya peduli akan keadaan sosial dan politik saat ini. Kepedulian pun sangat penting agar Indonesia menjadi negara yang lebih baik. Harapannya tidak dikuasai oleh segelintir kepentingan kelompok saja. “Jangan sekarang kita diam, baru setelah ada permasalahan baru berteriak-teriak,” kata Encik.
Dalam konser ini, Encik mengusung 15 lagu terbarunya. Konsep inipun semakin lengkap dengan adanya kolaborasi yang apik dengan Mataraman Swa Orchestra. Tampil pula Fonticello yang membawakan lagu-lagu ciptaan Sri Krishna dengan aransemen yang unik.
Konser musik ini merupakan produk kreatif dari komunitas Folk Mataraman Institute (FMI). Selain sebagai musisi, Encik juga menjadi pendiri sekaligus menjadi rektor dari komunitas FMI. FMI terdiri dari beragam disiplin ilmu, yang memakai praktik seni dan kerja kebudayaan sebagai medium mengekspresikan gagasan-gagasan kreatifnya.
Keunikan lain dari konser Encik kali ini adalah penonton diberi tawaran unik untuk membayar tiket masuk dengan cara menukarkan hasil bumi lokal. Hasil bumi lokal menurut Encik menjadi tanda peringatan bersama akan kesadaran bahan-bahan lokal yang perlu dieksplorasi, guna menumbuhkan ketahanan pangan tingkat nasional.
“Di samping itu, tata cara tiket ini ini juga merupakan respons seniman untuk merevitalisasi keguyuban dan gotong royong yang semakin sirna dari kebudayaan nusantara,” kata Encik.
Selain menikmati suguhan musik yang cerdas, penonton pun diajak untuk peduli dengan alam. Ini ditunjukkan dengan pembagian benih pohon perindang yang telah disediakan panitia. Encik mengungkapkan penonton diharapkan akan menanam benih tersebut di sekitar tempat tinggal mereka. (dwi/din)