SIAPA sangka, semut merah atau sering dinamakan semut rang-rang bisa menghasilkan uang. Namun, di tangan kreatif Hartoyo, semut rang-rang disulapnya jadi mesin pencetak uang. Ide usaha unik ini muncul, saat banyak orang menggemari burung kicauan. Biasanya, burung kicauan membutuhkan telor rangrang sebagai makanannya.
Gagasannya memelihara semut rang-rang sepintas tak lazim. Hanya bermodal rak kayu dan toples, ia memeliharanya di garasinya. Usaha menangkarkan semut rang-rang boleh dibilang baru seumur jagung. Namun, Hartouo mampu memetik keuntungan rata-rata Rp 100 ribu per hari.
Para serdadu merah yang senang berkoloni itu menjadi teman akrabnya. Semut Rang-rang bergotong royong mencetak uang bagi Joe, sapaan akrab Hartoyo.
“Sehari bisa memanen empat ons telur rang-rang. Satu ons laku dijual Rp 25 ribu. Ini masih baru sih, baru tiga bulan. Tetapi, sudah terbukti luar biasa hasilnya. Yang tidak tahu, dikira memelihara tuyul. Bisa dibilang, saya cukup diam, tahu-tahu panen kroto (telur tang-rang, Red) yang laku mahal saat dijual,” ungkapnya, kemarin (17/3).
Hartoyo meneruskan, awalnya hanya memiliki 12 toples sarang semut rang-rang. Setelah jalan tiga bulan, ia memiliki 50 toples tempat hunian semut rang-rang buatannya.
“Satu toples bisa memproduksi dua ons kroto. Sementara beberap toples dibiarkan menetas menjadi semut rang-rang muda yang membantu menambah pundi-pundi rezeki,” paparnya.
Kini, rumahnya menjadi ramai dikunjungi pecinta burung yang berburu kroto untuk asupan makanan burung. Bahkan, Joe mampu memasok kroto ke sejumlah toko penjual pakan burung di Pasar Suronegaran, Purworejo.
Joe menuturkan, ide budidaya kroto diawali saat menyetok kelapa muda (degan) ke Jogjakarta. Satu waktu, ia bertemu seorang pelanggan yang lebih dahulu sukses pemroduksi kroto.
Selain jadi reporter televisi swasta nasional untuk area Purworejo-Kebumen, saya berjualan kelapa muda yang disetor ke Jogjakarta,” tuturnya.
Saat bertemu pelanggan bernama Asbat, dirinya diberitahu soal budidaya semut rang-rang. Asbat memiliki 1.000 toples di rumahnya. Dalam sehari, sudah mampu memanen 10 kilogram kroto dan mampu mengirimnya ke Jakarta.
“Saya diberi tahu teknik dan caranya. Tentu saja, saya tertarik karena tidak menyita waktu untuk budidayanya. Lantas saya mencobanya di rumah” imbuhnya.
Menurut Joe, membudidayakan semut rang-rang cukup gampang. Tak butuh modal usaha yang besar. Cukup rak kayu, toples, dan memperlakukan semut senyaman mungkin untuk memproduksi telor.
Awalnya, ia membeli bibit semut rang-rang dan indukannya satu lusin dengan harga Rp 1,5 juta.
“Saya bisa cari di pohon-pohon dekat rumah. Tetapi kalau semut memiliki koloni. Mungkin kalau tidak satu suku bisa berkelahi dan bubar jalan semuanya. Akhirnya, saya pilih beli saja agar cepat menghasilkan,” ujarnya.
Umpan semut rang-rang juga murah dan mudah didapat. Cukup menggantungkan tulang atau menyebar ulat Hongkong di sekitar toples. Dalam sekejab digarap beramai-ramai oleh semut rang-rang. Saat semut panik dan nyaris berseteru, perlakukan yang butuh dilakukan adalah mendamaikan dengan air yang disemprotkan.
Supaya tak menjalar kemana-mana, lantai tepat di bawah rak dibatasi dengan lem kayu. Kaki-kaki rak cukup dengan alas piring yang diisi oli, agar semut tidak pergi.
“Dalam kondisi tenang dan kondusif, semut rang-rang cepat memproduksi telur. Satu toples bisa menghasilkan dua ons, artinya bagus. Suhu di Purworejo lebih cocok dibanding di Jogjakarta yang cenderung panas,” imbuhnya.
Soal kendala, Joe memaparkan, budidaya semut rang-rang dibutuhkan indukan atau ratu, agar tetap bertahan dan tidak terbang dari media pembiakan (toples) yang disediakan.
“Ratunya itu besar dan punya sayap. Kuncinya, ratu itu jangan sampai terbang pergi. Kalau pergi ya semuanya ikut bubar,” paparnya.
Cara memanennya juga mudah. Umumnya seorang pencari kroto, harus membubarkan kawanan semut rang-rang dan mengambil telurnya. Dengan budidaya dengan toples, toples yang diletakkan dengan mulut dibawah itu tinggal dipasang kembali tutupnya.
“Kalau sudah di pasang, tinggal diketok-ketok saja, kroto akan rontok mengikuti alur sarang, persis seperti pabrik kroto,” katanya,
Kroto yang tertampung di tutup toples dengan kondisi yang bersih putih seperti beras. Satu demi dikumpulkan, dan segera dijual.
“Saat hujan abu kemarin, harga kroto bisa dua kali lipat. Satu ons mencapai harga Rp 5 ribu. Kalau sehari menghadiskan 10 kilo, tinggal dikalikan saja,” ucapnya bangga.(*/hes)