TANGGAP BENCANA : Bupati Sleman Sri Purnomo meresmian gardu siaga bencana di Tegaltirto, Berbah, kemarin (17/3).
Ubah Paradigma Penanganan Kedaruratan Jadi Pengurangan Risiko Bencana
Hujan masih turun. Itu artinya, bencana alam bisa terjadi setiap saat. Seperti angin puting beliung, banjir, dan tanah longsor, gempa bumi dan erupsi Gunung Merapi. Warga harus siaga dan waspada hadapi bencana.
YOGI ISTI PUJIAJI, Berbah
Sikap siaga dan waspada tidak hanya harus dipahamai masyarakat di kawasan rawan bencana. Sebab, bencana alam bisa terjadi kapan dan dimana saja. Setidaknya, dampak dari bencana itu bisa meluas ke kawasan yang selama ini dikenal aman. Misalnya, dampak banjir lahar hujan di kaki Merapi.Jika puncak gunung teraktif di Indonesia itu diguyur hujan, masyarakat di bagian hilir justeru harus lebih waspada. Itu lantaran material vulkanik yang terbawa air bisa menerjang pemukiman penduduk. Terutama menimpa warga yang tinggal di bantaran sungai berhulu di puncak Merapi. Seperti pernah dialami warga Ngerdi, Sindumartani, Ngemplak.Demi mengantisipasi timbulnya korban, Bupati Sleman Sri Purnomo mengajak semua elemen untuk mengubah paradigma tentang bencana alam. Itu sebagai penyadaran diri bahwa Sleman bukanlah wilayah yang aman dari bencana.Bahkan, Sri menyebut bahwa masyarakat harus hidup berdampingan dengan bencana. “Saat ini penanggulangan bencana tak lagi difokuskan pada penanganan kedaruratan. Tapi lebih dalam upaya mengurani risiko bencana. Itu menuntut kesiapsiagaan masyarakat,” ungkap Sri di sela meresmikan gardu siaga bencana dan pelatihan mitigasi bencana di Tegaltirto, Berbah, akhir pekan lalu.Penanggulangan bencana memang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007. Seluruh pemangku kepentingan dan elemen masyarakat harus tanggap terhadap ancaman bencana. Bukan hanya saat terjadi tanggap darurat bencana, tetapi juga pada pra dan pasca bencana.Untuk mewujudkan hal itu, bupati punya kiat menjadikan mitigasi bencana sebagai bagian budaya dan kearifan local (local wisdom). Karena itu, pemanfaatan setiap fasilitas penanganan kedaruratan terhadap bencana harus dioptimalkan, bukan saat terjadi bencana saja. Tapi dimanfaatkan sebagai pusat layanan petugas sosial dan pelatihan masyarakat.Seperti gardu siaga bencana harus bisa menjadi tempat rujukan untuk menggali informasi kebencanaan bagi masyarakat, relawan, aparat keamanan, maupun orang luar daerah.Kepala Dinas Sosial Pemprov DIJ Untung Sukaryadi sependapat dengan Sri Purnomo. Tak hanya pemanfaatan maksimal yang diharapkannya. “Gardu siaga bencana jangan sampai mangkrak. Setiap hari ada yang piket,” ingatnya.Pengelolaan gardu tersebut hanya permulaan. Untung berjanji jika pemanfaatan bantuan dari Pemprov DIJ itu dinilai berhasil, dia akan menambah dengan membangun gardu logistik. Tak hanya pemahaman kebencanaan, dengan adanya gardu logistik, pemberdayaan lansia Tegaltirto diharapkan berjalan dengan lebih baik.Sebagai desa percontohan untuk program pemberdayaan lansia, Ungung menaruh harapan di Tegaltirto bisa terwujud klinik lansia untuk mengantisipasi kejadian darurat. “JIka ini terealisasi, dinas sosial akan membantu mobil ambulan,” ujarnya.(*/din)