Data Badan Narkotika Nasional (BBN) pada 2010 menyebutkan, angka prevalensi pemakai narkoba dikalangan pelajar Jogja nomor dua setelah Jakarta. Apa yang dilakukan BNN Kota Jogja untuk menekannya?
Bahana, Jogja
Di bawah terik matahari, 30 pelajar SMPN 4 Jogja melaksanakan upacara di halaman sekolah mereka kemarin (17/3). Dalam upacara ini, mereka secara resmi dilantik sebagai Satgas Anti Napza “Jagoan” atau Pelajar Jogja Anti Napza.
Pelantikan dilakukan langsung Kepala BNNK Jogja Sapto Hadi. Turut hadir dalam pelantikan tersebut Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdik Jogja Sugeng M Subono dan para guru sekolah.
Setelah dilantik menjadi Satgas Anti Napza, 30 pelajar ini memiliki tugas memberikan sosialisasi bahaya narkoba terhadap rekan sebaya. Mereka akan berperan sebagai konselor atau penyuluh sesama rekan-rekan mereka.
” Penerapan strategi peer educator cukup efektif untuk sosialisasi bahaya narkoba. Karena kami ini istilahnya orang-orang tua, BBNK Jogja berusaha menghilangkan kesan menggurui,” kata Sapto sebelum pelaksanaan sosialisasi di salah satu ruang kelas sekolah setempat kemarin.
Menurutnya, penyuluhan dengan teman sebaya justru bisa lebih fleksibel dan mudah ditangkap oleh siswa. Satgas Anti Napza berperan seabgai fasilisator antara BNNK Jogja dengan siswa yang ada di sekolah.
Nantinya, setiap ada informasi maupun pertanyaan mengenai bahaya narkoba dari siswa lain, peran satgas inilah yang memberikan pejelasan. Namun bila pertanyaan tidak bisa dipecahkan, satgas bisa menyampaikan kepada BNNK Jogja untuk kemudian jawaban dari pertanyaan tersebut disampaikan kembali kepada teman yang lain. “Para Satgas ini adalah role model. Mereka menjadi contoh terbaik dalam rangka mengampanyekan bahaya napza,” katanya.
Sebagai kota pendidikan dengan jumlah kaum muda yang besar, keberadaan pelajar di Jogja sangat rentan dengan masalah narkoba. Sapto mengatakan, faktor yang mempengaruhi pelajar memakai narkoba dikarenakan rasa keingintahuan siswa semakin besar. Apalagi dengan adanya teknologi yang semakin canggih, mereka bisa mengetahui cara menggunakan narkoba melalui berbagai media seperti handphone, koran dan internet.
Bahkan, informasi yang setengah-setengah terhadap penyuluhan tentang bahaya narkona dapat disalah gunakan. “Oleh karenanya ketika mengisi paparan di kelas, di akhir acara harus ada penekanan mereka dapat menilak narkoba. Ini digunakan sebagai sugesti khusus bagi pelajar,” terangnya.
Sapto mengatakan, pihaknya menerapkan berbagai metode dalam upaya pencegahan penggunaan narkoba dikalangan pelajar. Cara yang efektif adalah dengan penyuluhan. Penyuluhan tersebut dilakukan mulai dari kegiatan missal upacara bendera, pertemuan di aula sekolah, atau saat kultum setelah salt dzuhur. “Kami juga menyisipkannya pada kegiatan seni seperti teaterikal yang dilaksanakan oleh siswa,” jelasnya.
Selain itu, BNNK juga melakuakn upaya parenting day ke sejumlah sekolah. Dimana kegiatan tersebut dilakukan sebelum pelaksanaan ujian nasional.
Kegiatan parenting day melibatkan orang tua, Harapannya, sebelum siswa duduk di sekolah menengah, orang tua bisa mengetahui sekolah mana saja yang mampu mendeksi narkoba. “Kami memakai semua metode atau cara di sekolah supaya bahaya narkoba ke siswa bisa tersampaikan,” terangnya.
Sapto memaparkan sesuai rencana tahun sebelumnya terdapat 23 sekolah yang siswanya tergabung dalan satgas anti napza. BNNK Jogja menargetkan setidaknya ada 7 hingga 10 sekolah pada tahun ini tergabung dalam Satgas Anti Napza. “Sejak tahun 2010 sudah ada 12 SMA yang tergabung. untuk tahun ini kami memfokuskan ke siswa SMP,” tandasnya.(*/din)