• Stamina Persiba Selalu Rontok di Babak Kedua
BANTUL-Hasil buruk yang dialami Persiba Bantul dalam enam pertandingan pertama di ajang Indonesian Super League (ISL) 2014 memaksa pelatih Sajuri Said untuk berbenah.
Alasannya, jika kondisi seperti ini dibiarkan, bukan tak mungkin Laskar Sultan Agung terus berada di papan bawah dan terdegradasi ke kompetisi Divisi Utama musim depan.
Seperti yang hendak dilakukan tim papan bawah ISL lainnya, Sajuri pun berfikir untuk melakukan pencoretan. Setidaknya pencoretan ini dilakukan saat berakhirnya putaran pertama Mei nanti.
Menurut Sajuri ada beberapa penggawa yang sebenarnya tidak masuk standar sebagai pemain tim ISL. Karena itulah dia ingin mendepak pemain-pemain tersebut dan menggantinya dengan penggawa-penggawa yang secara kualitas lebih mumpuni. “Cukup banyak juga penggawa yang saya nilai tidak masuk standar sebagai pemain ISL,” terang Guru SMAN 1 Pajangan Bantul tersebut.
Namun yang menjadi masalah, Persiba bukanlah klub dengan kemampuan finansial kuat. Setidaknya itu dibuktikan dengan belum terpenuhinya gizi untuk para pemain. Setiap hari Eduardo Bizarro dkk hanya bisa menyantap nasi bungkus.
Karena hal itulah Sajuri mengaku dirinya akan berfikir dua kali sebelum mencoret pemain. Ia takut pencoretan pemain malah bakal melemahkan Persiba lantaran ketidakmampuan manajemen mendatangkan pemain pengganti.
“Yang harus dipikirkan juga kalau ada yang keluar yang masuk siapa. Kan itu juga tergantung kemampuan manajemen. Kalau ndelalah manajemen tidak bisa mendatangkan pemain ya malah ciloko,” tandasnya.
Sajuri mengungkapkan masa liburan pemilu legislatif (Pileg) 2014 selama sebulan bakal dimanfaatkan untuk membenahi tim. Tapi sebelum kembali berlatih, Sajuri terlebih dahulu meliburkan latihan selama satu pekan. “Semoga saja kami mampu bangkit setelah Pileg,” ucapnya.
Secara statistik, ada kelemahan mendasar yang masih menghinggap di kubu Persiba. Dari 13 gol yang bersarang ke gawang Wahyu Tri Nugroho (WTN) sembilan di antaranya terjadi di babak kedua. Lebih spesifik lagi kebobolan Persiba paling sering terjadi pada awal dan pertengahan babak kedua. Pada dua fase ini, Persiba masing-masing kemasukan empat bola.
Ini membuktikan kalau secara umum level fitness para penggawa The Red sangat buruk. Kurang bervariasinya makanan yang diasup pemain-pemain Persiba sepertinya menjadi penyebab utama.
“Stamina para pemain memang menjadi salah satu hal yang wajib dibenahi. Pada babak kedua kami selalu saja kendur. Mudah-mudahan saja ada perbaikan setelah jeda pileg,” jelasnya. (nes/din)