JOGJA – Indonesian Chef Association (ICA) bertekad mengangkat beragam resep masakan tradisional. Ini agar masakan tradisional mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Asosiasi ini ingin anak-anak Indonesia lebih memilih makan rawon atau garang asem ketimbang fried chicken atau ayam goreng yang disajikan restoran cepat saji. Tekad ini ditekankan dalam Rakernas Pertama ICA bertema Save The Indonesian Culinary Heritage di Gotel Royal Ambarrukmo Jogjakarta kemarin (17/3).
Para praktisi, pengamat, pecinta, pelaku, dan mitra kuliner yang berada di bawah payung ICA menilai hanya sedikit generasi muda yang mengenal makanan tradisional. Makanan tradisional semakin tidak populer. Bahkan, tidak sedikit resep masakan daerah yang hampir punah atau tak lagi dikenali. Terutama oleh kalangan muda.
“Tugas kita lah menjaga agar masakan Indonesia jadi tuan rumah di negeri sendiri dan memperkenalkannya ke mancanegara,” ujar Vice President ICA Chef Susanto sebelum rakernas.
Dia menegaskan, ada beberapa makanan yang sudah cukup populer hingga luar negeri. Di antaranya, rendang dan sate. Tapi, jelasnya, masih banyak resep tradisional yang tidak kalah enak dan memiliki rasa khas selain rendang dan sate. “Hampir di semua daerah di Indonesia memiliki (resep tradisional),” ujarnya.
Dia mengatakan, rakernas yang melibatkan 1.600-an anggota ICA dari seluruh Indonesia ini diharapkan dapat memberikan usulan atau terobosan untuk bisa mengangkat pamor makanan tradisional secara bersama. Terlebih, selama ini masing-masing badan pimpinan daerah (BPD) ICA sudah memiliki program. Termasuk mengangkat masakan tradisional dalam berbagai kesempatan.
“Masing-masing anggota di BPD lebih tahu tentang makanan khas daerahnya,” ujarnya.
Sejauh ini ICA sudah menginventarisasi resep makanan tradisional yang layak diangkat. Namun ICA belum memiliki angka pasti.
Mereka tetap berharap masyarakat Indonesia lebih mengenal dan menyukai makanan tradisional ketimbang makanan luar. “Kita coba angkat, pertahankan, dan menjaganya. Tidak hanya generasi muda yang menyukai tapi makanan ini dikenal di mancanegara dan berkembang di sana,”ujar Susanto, anggota ICA yang juga chef.
Pengamat kuliner Bondan Winarno mengatakan, cukup sulit untuk menyebutkan jumlah resep masakan tradisional. Misalnya, kata dia, dalam buku Mustika Rasa yang dikeluarkan Departemen Pertanian pada 1950-an menyebutkan ada 1.500 resep makanan Indonesia.
Tapi, kata dia, ada beberapa resep yang merupakan kreasi baru. Bahkan, ada yang berupa fusion (fusi). “Untuk tahu itu resep tradisional atau sudah kreasi, kita harus tahu betul dengan menggali kisahnya,” ujar pria yang dikenal dengan jargon Mak Nyus ini.
Bondan punya pesan khusus kepada ICA. Dia mengingatkan asosiasi ini juga harus menggarap standardisasi nama makanan. Sebab, beberapa makanan tradisional yang berbeda versi tapi memakai nama yang sama.
“Di Jogja garang asem, isinya daging. Tapi ada (garang asem) yang isinya ikan laut seperti versi Tuban. Beda lagi dengan versi di Kudus. Maka perlu ada standardisasi penamaan. Misalnya, garang asem itu sebenarnya bentuknya apa,” papar Bondan.
Ketua ICA BPD DIJ I Made Witara mengatakan, BPD ICA DIJ telah memiliki program rutin semisal festival makanan. Kegiatan ini mengangkat beragam makanan Indonesia.
Selain itu, setiap Jumat mereka rutin membuka konsultasi soal kuliner di Taman Kuliner. Kuliner berupa jajan pasar juga masuk dalam modul pembelajaran sekolah menengah kejuruan di DIJ.
“Sedini mungkin kita beri pengetahuan tentang makanan tradisional. Tentunya peran orang tua sangat penting agar tidak menjadikan makan makanan luar sebagai gaya hidup,” ujar Made. (dya/amd)