SLEMAN – Timus merupakan salah makanan tradisional yang masih bisa ditemui di Jogjakarta dan sekitarnya. Makanan kecil yang dinamakan timus ini masih banyak dicari dan diminati karena harganya yang terjangkau.
Timus merupakan makanan berbahan dasar ubi. Pembuatan timus masih menggunakan cara manual. Proses tersebut dinilai memerlukan banyak waktu dan tenaga.
Empat mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknik UNY, Hermawan Rochmadi, Gunawan Risdiyanto, Eko Ramzani dan Anton Yuniarto berinovasi dengan menciptakan alat pembuat timus. Alat ini berfungsi mempermudah, memperingan dan membuat produksi lebih optimal.
Eko mengatakan mesin tersebut terbagi menjadi bagian atas dan bagian bawah. Bagian atas sebagai penghancur dan pengaduk dengan kapasitas daya tampung 5 kilogram ubi. Sedangkan kecepatan putar pisau pemotong 70 Rpm (revolutions per minute/putaran per menit).
Mesin bagian bawah berfungsi sebagai pencetak adonan timus hingga berbentuk bulatan panjang dengan kecepatan cetak satu kilogram per menit. Ubi yang telah matang kemudian diproses pada mesin bagian atas yang berfungsi sebagai penghancur selama lima menit, kemudian dimasukkan bahan lainnya seperti tepung dan gula dan diaduk hingga halus.
“Setelah adonan selesai langsung dituangkan pada mesin bagian bawah yaitu pencetak untuk menghasilkan timus yang siap untuk digoreng,” kata Eko.
Dikatakan, yang harus diperhatikan pada bagian penghalus, pengaduk dan pencetaknya harus berasal dari bahan yang tahan karat. Karena berhubungan dengan kebersihan makanan.
Menurut Eko, dalam pembuatan mesin ini ada komponen-komponen yang harus dipenuhi sebagai bentuk mesin penghalus dan pencetak adonan timus tersebut. Yaitu rangka, bak penampung, pisau pemotong, poros, motor listrik, reducer, v-belt, dan conveyor.
Sementara itu Hermawan mengatakan timus yang berbahan dasar ubi jalar kaya karbohidrat sehingga energi tidak sekaligus terlepas, melainkan secara berkala. “Dalam setiap butir ubi jalar ukuran sedang, kandungan vitamin A-nya hampir dua kali lipat dari yang disarankan dikonsumsi setiap hari,” kata Hermawan.
Warna ungu pada ubi jalar ungu adalah zat antioksidan yang membantu tubuh menangkal radikal bebas. Untuk memenuhi kebutuhan vitamin C setiap hari, 42 persen bisa tercukupi dari mengonsumsi ubi jalar. “Bahkan, beta carotene ubi jalar adalah empat kali lipat dari yang dibutuhkan seseorang,” terangnya. (bhn/iwa)