BANTUL – Sosialisasi pemilu bagi pemilih pemula terus digalakkan di kampus-kampus. Tak terkecuali di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Melalui Rock The Vote Indonesia (RTVI) pemilih pemula diajak untuk tidak golput.
“Politik itu tidak seburuk yang dibayangkan dan tidak melulu tentang korupsi. Melalui pilihan yang cerdas akan menciptakan iklim demokrasi yang sehat,” kata ketua panitia RTVI Sakir di pelataran Sportorium UMY (18/3).
Sekitar 300 pemilih pemula terdiri dari mahasiswa dan pelajar hadir dalam acara tersebut. Selama beberapa jam, mereka mendengarkan pemaparan sejumlah calon legislatif (caleg) yang dihadirkan. Mereka berorasi bukan visi misi, bukan sebagai seorang caleg, melainkan sebagai calon presiden.
“Kami menyebar undangan ke seluruh perwakilan partai, tapi yang konfirmasi bisa hadir hanya sepuluh caleg,” terang Sakir, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan UMY.
Selain mengenalkan wakil dari masing-masing partai, pemilih pemula juga diajarkan berdemokrasi melalui simulasi pemilu. Pemilih pemula dibagi menjadi 16 kelompok, masing-masing kelompok didampingi tutor.
Pemilih pemula, kata Sakir, dikenalkan apa itu demokrasi dan parpol. Dalam simulasi, siswa praktik tentang proses pemungutan suara dengan fasilitas TPS (tempat pemungutan suara), bilik suara dan surat suara.
Sementara itu, Staf Ditjen Kesbangpol Kemendagri Endang Rosawati mengatakan, upaya sosialisasi bagi para pemilih pemula tersebut menjadi salah satu strategi penguatan partisipasi Pemilu 2014. Hal tersebut dilakukan karena angka partisipasi terus menurun dari pemilu-pemilu sebelumnya.
Dari data yang ada, partisipasi pemilu 2009 hanya 72 persen, sedangkan pemilu 2004 sebanyak 84 persen dan 92 persen di Pemilu 1999.
“Pemilih pemula dan muda ini memiliki jumlah yang cukup potensial yakni mencapai 5,3 juta orang dari sekitar 100 juta penduduk yang memiliki hak pilih,” kata Endang.
Rektor UMY Prof Bambang Cipto mengatakan, dalam ajang tersebut pemilih pemula berkesempatan berdiskusi sekaligus menyadari pentingnya pemilu yang menentukan masa depan pemerintahan. Para pemilih pemula tersebut diharapkan mampu memberikan masukan yang lebih fresh.
“Meski masih muda, para pemilih pemula ini sebenarnya juga tidak bisa menghindari pendidikan soal politik. Namun yang harus ditekankan adalah pendidikan politik yang diperoleh harus murni dan bebas demi kemajuan bangsa,” jelas Bambang. (bhn/iwa)