MAGELANG – Pengadilan Negeri (PN) Magelang melanjutkan sidang gugatan Herry Chandra alias Tjong Sien Hoo dan Sri Sulistyowati dengan pemeriksaan saksi-saksi dengan memberikan bukti-bukti.
Pemilik Toko Mas Gatotkoco Herry Chandar mengajukan Gugatan Perdata terhadap dugaan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) oleh Pemkot Magelang, dalam penempatan pedagang kios Pasar Rejowinangun yang menghadap Jalan Mataram. Dasarnya, bukti-bukti yang diajukan ke pengadilan. Herry merasa lebih kuat menempati kios nomor 1, dibanding Slamet Santoso, pemilik Toko Mas Mustika.
Saksi yang diajukan penggugat adalah Ong Siu Ming. Pedagang benang dan kancing yang pascakebakaran tidak lagi meneruskan usaha dagangannya karena bangkrut mengaku pada 2012 diundang pihak investor, PT Putra Wahid Pratama-PT Kuntjup. Pada acara yang difasilitasi Pemkot Magelang tersebut, ditegaskan pedagang bisa menempati kembali dengan syarat membayar kios atau los kepada investor. Saat itu, harga kios termahal adalah Rp 850 juta dan untuk kios termurah Rp 90 juta.
“Saat itu, nego soal harga kios dan los ramai. Akhirnya, pembangunan menjadi investasi dan APBD,” paparnya.
Dikemukakan saksi, Pasar Rejowinangun ada sejak 1967. Kemudian pada 1983/1984, dilakukan pembangunan kembali. Selanjutnya, pada 1987/1988, berdiri tiga buah kios di atas taman atau fasilitas umum.
“Kios itu dibangun Pak Sudarmono. Tiga kios itu bukan kios utama seperti yang lainnya di Pasar Rejowinangun. Karena ada batas berupa lorong. Kios tersebut tidak ikut terbakar,” ungkapnya.
Menjawab pertanyaan Kuasa Hukum Penggugat Janu Iswanto SH dan Sadji SH, pria asal Kampung Nanggulan Rejowinangun Utara tersebut mengemukakan, tiga kios tersebut adalah Toko Mas Pak Tani, Toko Mas Mustika, dan Toko Mas Gareng. Luasan masing-masing kios tersebut kalah jauh dengan kios Toko Mas Gatotkoco yang ada di kios nomor 1.
“Yang jelas, tiga kios tersebut berada di luar pasar, karena berdiri di atas taman,” imbuhnya.
Menjawab pertanyaan Kuasa Hukum Tergugat, M. Zazin SH dan Ferry Pramudiyanto Kurniawan SH, saksi membenarkan tiga kios berada paling barat pasar. Kios-kios tersebut menghadap utara atau Jalan Mataram.
Iya, sebagai satu kesatuan pasar. Tetapi kios tersebut didirikan setelah pasar direnovasi. Karena saya tahu, Pak Darmono baru mendirikan sambil mengawasi pembangunan kios sekitar tahun 1987,” katanya.
Sidang juga dihadiri Kabag Hukum Kota Magelang Widi Haryani SH. Jalannya sidang sempat molor hingga pukul 14.30, dari jadwal 12.00. Alasannya, Ketua Majelis Hakim Retno Purwandari Yulistyowati SH tengah ada kepentingan di Jogjakarta.
Dalam sidang tersebut, Hakim Angggota Husnul Khotimah SH digantikan Delta Tamtama SH. Anggota hakim lainnya adalah Ratriningtyas Ariani SH dan Panitera Pengganti Supriyanti.
Pada sidang tersebut, penggugat juga mengajukan saksi lain. Yakni Mulyono Efendi yang juga pedagang. Karena hari telah sore, sidang ditunda hingga Selasa (25/3).
“Barangkali saksi lain mungkin sudah capek dan tidak konsentrasi lagi. Sebaiknya kita tunda sidang pada Selasa minggu depan,” tegas Hakim Retno.
Sengketa tersebut bermula dari perebutan kios nomor 1 di Pasar Rejowinangun yang menghadap Jalan Mataram. Herry Chandra menggugat Pemkot Magelang, karena memberikan kios tersebut ke Toko Mas Mustika.(dem/hes)
ta d� a�)P ��E ikan keterangan dan klarifikasi ke kejaksaan, rata-rata datanya belum lengkap. Makanya kami kejar terus ini,” tegas Cakra.
Pada penyelidikan kasus tersebut, Kejari Magelang telah memintai keterangan 18 pedagang, tiga orang pejabat Pemkot Magelang, dan 18 anggota dewan.(dem/hes)