PURWODADI – PT Petrokimia Gresik mencoba menggalakkan program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) di Purworejo. Langkah awal mereka diawali di Desa Kepongkok, Kecamatan Purwodadi.
Melalui program tersebut, BUMN ini juga memberikan bimbingan pada petani. Terutama dalam meningkatkan produktivitas hasil pertanian.
“Salah satunya melalui kombinasi pupuk organik dan kimia,” kata Direktur Utama (Dirut) PT Petrokimia Gresik Hidayat Nyakman. Hidayat didampingi Kepala Dinas Pertanian Peternakan Kelautan dan Perikanan (Dispernaklaukan) Purworejo, Ir Dri Sumarno.
Hidayat meneruskan, melalui program tersebut diharapkan produktivitas hasil pertanian di Purworejo yang dikenal sebagai lumbung padi di Kedu Selatan semakin meningkat.
“Untuk mendukung program GP3K, dibutuhkan pupuk formula. Komposisinya, 500 kilogram pupuk organik dan 300 kilogram pupuk NPK Phonska, serta 200 kilogram pupuk urea untuk setiap hektare lahan,” jelasnya.
Menurut Hidayat, melalui komposisi itu, produktivitas pertanian bisa meningkat 1 ton lebih per hektare.
“Kami berani menjamin hasilnya. Jika setelah digunakan komposisi tersebut dan hasilnya tidak sesuai, kami mengganti kekurangannya,” janjinya.
Formula tersebut telah diuji pada ribuan lahan dan berhasil. Dari situ, Hidayat berani memberi jaminan dan meyakinkan petani agar tidak ragu menerapkan formula pemupukan serupa.
“Dari berbagai percobaan, produktivitas bisa meningkat hingga 2 ton per hektarenya. Dengan mempertahankan masa tanam hama juga tidak muncul seperti yang ditakutkan petani,” tegasnya.
Kepala Dispernaklaukan Purworejo, Ir Dri Sumarno mengungkapkan, pemkab mendukung program tersebut lantaran penggunaan pupuk organik tidak dikesampingkan. Jika penggunaan pukuk kimia 100 persen akan memicu kerusakan pada lahan pertanian yang berakibat pada turunnya produktivitas.
“Kami dukung karena dicampur dengan organik. Memang Purworejo masih menuju pertanian organic dengan sistem organic, kami diajak belajar dengan alam sekaligus memahami karakter alam. Selama ini banyak kebiasaan petani yang kurang tepat. Misalnya membakar jerami. Sebenarnya bisa diolah menjadi bahan pupuk organik,” katanya.(tom/hes)