SUASANA di Gedung Persaudaraan Djamaah Haji Indonesia (PDHI) Gunungkidul kemarin (18/3) ramai. Sejumlah ibu-ibu sibuk menenteng alat dapur seperti wajan hingga bumbu dapur. Mereka tengah mengikuti pelatihan pengelolaan dapur umum. Kegiatan yang dilakukan BPBD DIJ bekerjasama dengan BPBD Gunungkidul ini dalam tahap awal pesertanya warga Desa Kedungpoh Kecamatan Nglipar.
Acara tersebut diklaim kali pertama dilaksanakan di wilayah Jogjakarta paling timur tersebut. Kegiatannya berlangsung selama dua hari hingga hari ini. Kegiatan dibuka Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD DIJ Prasetyo.
Dia menjelaskan, pelatihan diikuti 30 peserta. Pelatihan tersebut merupakan salah satu upaya BPBD membentuk masyarakat selalu siaga menghadapi bencana.
“Fasilitas dapur umum menjadi bagian penting untuk mengatasi bencana. Terutama korban bencana yang mengungsi. Untuk inilah kami harap pelatihan ini diikuti dengan serius, karena pada suatu saat pasti berguna,” ujar Prasetyo.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Budhi Harjo mengatakan para relawan yang tergabung dalam dapur umum akan menjadi salah satu aset SDM andal. Terutama dalam mengatasi kebutuhan konsumsi korban bencana khususnya pengungsi.
“Meskipun kami tidak pernah mengharap terjadinya bencana, jika nantinya benar-benar terjadi bencana, kami sudah siap. Terutama masalah logistik dapur umum,” ujar Budhi.
Dikatakan, pada pelatihan hari kedua, para peserta diwajibkan praktik memasak menggunakan fasilitas dapur umum. Pada praktik ini diasumsikan terjadi bencana longsor hingga menyebabkan 300 warga mengungsi.
“Untuk mengatasi masalah itu, tim dapur umum dipandu petugas Tagana, melakukan praktik memasak dan menghidangkannya,” terangnya.
Dalam evaluasi awal, peserta yang mayoritas ibu-ibu terlihat cukup cekatan. Sehingga dari bahan mentah hingga siap saji membutuhkan proses tidak lebih dari tiga jam. Peserta juga sangat disiplin memanfaatkan waktu, hingga proses memasak sesuai alokasi waktu. “Kualitas dan rasa masakan juga tidak kalah dengan masakan rumah makan,” kata Budhi.
Salah seorang peserta, Surti, 32, mengaku baru kali pertama mengikuti pelatihan dapur lokasi bencana. Memasak dalam situasi bencana berbeda dengan hari biasa. Selain tambah pengalaman memasak untuk para pengungsi, dia juga termotivasi bagaimana memiliki kepekaan sosial. “Jika sewaktu-waktu dibutuhkan saya siap,” kata Surti. (*/iwa)