JOGJA-Ditempatkannya PSIM Jogja pada grup yang ditempati PSS Sleman dan klub-klub Jawa Timur (Jatim) tidak membuat Laskar Mataram 100 persen berbahagia. Pasalnya, susunan grup 5 yang ditempati klub besutan Seto Nurdiyantara ini ternyata di luar perkiraan manajemen.
Selain berhadapan dengan PSS, Eko Budi Santoso dkk wajib berhadapan dengan lima tim Jatim yakni PSBK Blitar, PSBI Blitar, Madiun Putra FC (MPFC), Persenga Nganjuk dan Persinga Ngawi. Itu ditambah klub asal Papua yang memilih berkandang di Stadion Willis, Madiun Perseman Manokwari.
Menurut Direktur Operasional PT Putra Insan Mandiri (PT PIM) Jarot Sri Kastawa, dalam Rancangan Anggaran Belanja (RAB) yang disusun, manajemen tidak menganggarkan adanya enam laga tandang di Jatim. Katanya, awalnya manajemen berasumsi sebagian besar lawan PSIM di babak pendahuluan berasal dari Jawa Tengah (Jateng). “Ya awalnya demikian. Kami berfikir paling hanya satu ada dua tim Jatim yang berada dalam satu grup. Sisanya Jateng,” tandasnya.
Menurut perhitungannya, pembengkakan biaya tandang yang dialami PSIM bisa mencapai 20 persen. Sektor yang paling terkena imbas dari hasil grupping adalah biaya hotel saat bertandang. Kata Jarot rata-rata biaya hotel di Jatim terutama di Blitar relative lebih mahal.
Tapi, dari segi transportasi, ditempatkannya PSIM di grup 5 cukup menguntungkan. Pasalnya kota-kota yang dituju PSIM seluruhnya dapat ditempuh dengan kereta api. Berbeda dengan kebanyakan kota di Jateng yang harus ditempuh menggunakan bus. “Justru lebih nyaman untuk pemain kan,” sergahnya.
Yang membuat PSIM lega, ada dua pasang klub yang menggunakan stadion yang sama. MPFC bersama Perseman jelas akan meggunakan Stadion Willis. Adapun untuk dua klub asal Blitar, PSBK dan PSBI sama-sama memakai Stadion Supriyadi.
“Mudah-mudahan saja MPFC-Perseman serta PSBI-PSBK ditempatkan dalam satu kopel. Jadi kami kan tak perlu pindah-pindah tempat. Hanya saja memang kalau bertanding dua kali di tempat yang sama biaya penginapan membengkak,” terangnya.
Di bagian lain, salah satu pemain yang sudah direkomendasikan tim pelatih Fajar Listiyantara belum menjalin kesepakatan dengan manajemen. Direktur Utama PT Putra Insan Mandiri (PT PIM) Dwi Irianto mengatakan, gaji menjadi faktor mengapa manajemen belum bisa mengikat adik kandung Seto tersebut.
Namun sejatinya, negosiasi dengan Fajar sama sekali tak berjalan aalot. Kata sosok yang akrab disapa Mbah Putih (MP) tersebut, Fajar hanya perlu berkonsultasi dengan istrinya sebelum mengiyakan besaran bayaran yang sudah disodorkan. “Kami hanya memberikan waktu sampai besok (hari ini, Red) kepada Fajar. Jika dia menolak atau tak memberikan kejelasan maka kami bakal mencari pemain lain,”tegasnya. (nes/din)