SLEMAN – Kampanye umum terbuka melibatkan massa kian tak diminati. Biaya mahal menjadi alasan utama para calon peserta pemilu legislatif. Apalagi, pengerahan massa lebih banyak ditanggung oleh masing-masing calon legislatif (caleg). Para politisi memilih kampanye dialogis atau tatap muka langsung dengan masyarakat yang notabene nonsimpatisan atau konstituen.
Seperti dilakukan caleg Partai Golkar Siti Hediati Soeharto. Politikus yang akrab disapa Titiek Soeharto itu pilih blusukan pasar sambil berbelanja untuk menyosialisasikan pemilu. Dari Pasar Salak Tempel, Titiek dan rombongannya bergeser ke Pasar Turi. Dilanjutkan ke kawasan pusat tanaman herbal di Pakem.
Sugeng enjing, niki pinten reginipun,” sapa Titiek kepada seorang penjual bumbu dapur di Pasar Turi kemarin (19/3).
Berhadapan dengan para bakul pasar, yang rata-rata berusia paruh baya, Titiek lebih banyak berbicara dengan bahasa Jawa. Dengan begitu, orang-orang yang ditemui lebih mudah memahami kehadiran rombongan.
Selama di pasar, Titiek yang selalu mengumbar senyum tak bicara visi misi. Putri keempat mantan Presiden Soeharto itu lebih banyak mengingatkan para pedagang agar tak lupa memberikan hak suaranya saat pencoblosan 9 April nanti. (yog/ila)