KRETEK – Para nelayan di pesisir selatan mendapatkan pengetahuan baru. Itu setelah lima kelompok nelayan di sepanjang pantai selatan Bantul ini mengikuti pelatihan pembuatan garam dari Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) Tegal di kawasan Pantai Depok kemarin (19/3). Harapannya pelatihan ini dapat meningkatkan taraf perekonomian para nelayan.
Intrukstur BPPP Drajat berharap pelatihan ini mampu membuka wawasan para nelayan. Sebab, potensi kekayaan laut tidak hanya berupa ikan tangkapan. Tetapi air laut pantai selatan juga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan garam. Selain itu, pelatihan ini juga diharapkan mampu mengubah paradigma berpikir para nelayan.
“Para nelayan selama ini masih terpaku dengan hasil tangkapan laut saja,” terang Drajat usai memberikan pelatihan.
Menurut dia, kadar garam dan kualitas air laut di pantai selatan jauh lebih baik dibandingkan dengan air laut pantai utara. Terlebih, air laut di pantai utara juga telah tercemar limbah industri. Dari itu, kualitas garam yang diproduksi di pantai selatan lebih tinggi. “Ini potensi bagi para nelayan di sini,” ujarnya.
Apalagi, proses pembuatan garam sangat mudah, dan tak membutuhkan modal yang cukup besar. Meski begitu, usaha produksi garam menjanjikan nilai ekonomi yang cukup tinggi.
Senada diungkapkan Panggih Raharjo, intrukstur BPPP Tegal lainnya. Menurut dia, proses pembuatan garam dari awal cukup simpel. Yakni, dimulai dengan pengambilan air laut, lalu ditampung dalam sebuah kolam selama empat hari. Selanjutnya, air dipindah ke kolam lainnya untuk proses penuaan. “Selama seminggu. Kemudian, diukur dengan baomemeter air. Jika kadar lebih dari 20 derajat berarti sudah tua,” urainya.
Panggih menguraikan, air tersebut lantas dipindah ke meja kristal. Biasanya meja kristal terbuat dari terpal yang didesain dengan kedalaman sekitar 10 centimeter. Di dalam meja kristal air dijemur di bawah terik matahari. “Setelah tiga hari garam sudah bisa dipanen. Meja kristal berukuran 4X6 meter dapat menghasilkan 50 kilogram garam,” ulasnya. Di pasaran, satu kilogram garam seharga Rp 2.500.
Danu Andri Utomo, seorang peserta pelatihan mengaku akan memproduksi garam usai mengikuti pelatihan ini. Selain biaya produksi yang cukup murah, dan simpel, kelompok nelayan juga akan mendapatkan bantuan berupa sejumlah peralatan. “Dan hasilnya sangat lumayan,” terang nelayan Pantai Pandansimo ini.
Setidaknya ada sekitar 30 nelayan dari lima kelompok yang mengikuti pelatihan ini. Mereka adalah kelompok nelayan asal Pantai Parangtritis, Depok, Goa Cemara, Kuwaru, dan Pandansimo. “Sebenarnya sudah ada yang order garam. Seminggu satu ton. Tapi kami masih belum siap,” jelasnya.(zam/din)