PURWOREJO -Petani diimbau lebih bersabar dan menyimpan hasil panen menyusul tren penurunan harga gabah kering memasuki musim panen raya padi dalam sepekan terakhir. Ini ditegaskan Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultur, Dinas Pertanian Peternakan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Purworejo, Eko Anang SW, kemarin (19/3).
“Turunnya harga jual gabah kering hasil panen musim ini tentu merugikan petani. Langkah menunda penjualan dinilai membantu petani agar memperoleh harga yang lebih baik,” katanya.
Harga gabah kering saat ini dibandrol Rp 480 ribu per kwintal untuk kelas super. Harga itu jauh lebih rendah dibanding harga sebelumnya yang mencapai Rp 520 ribu per kwintal. Sementara untuk harga gabah basah, berkisar antara Rp 340 ribu per kwintal – Rp 380 ribu per kwintal.
“Turunnya harga gabah pada musim panen ini sudah mulai terjadi. Ini disebabkan pasokan barang melimpah memasuki panen raya. Untuk mendapatkan harga yang lebih baik, petani diimbau menyimpan hasil panen atau menunda penjualan,” pintanya.
Eko Anang menambahkan, anjloknya harga tak lepas ulah para tengkulak nakal yang kerap mempermainkan harga. Sementara sebagian petani terpaksa menjual hasil panennya, karena membutuhkan uang. Khususnya dialami para petani kecil atau petani penggarap yang mengharapkan hasil panen langsung bisa dijual.
“Ada beberapa kelompok pedagang yang sudah menjalin kerja sama dengan Bulog. Gabah tersebut harus sesuai standar dengan harga sesuai yang sudah ditentukan. Petani menjual lewat kelompok yang selanjutnya dijual ke Bulog. Kalau melalui jalur ini, jauh lebih aman,” imbuhnya.
Ia meneruskan, produksi padi pada musim panen kali ini cukup baik. Kendati beberapa waktu lalu sempat terdampak hujan abu vulkanis Gunung Kelud dan dilanda banjir pada awal musim tanam.
“Pengaruhnya tidak terlalu signifikan. Secara global hasil panen baik,” katanya.
Hermawan, 33, petani di Desa Kuwurejo, Kecamatan Kutoarjo mengaku akan mengikuti imbauan pemerintah untuk menunda menjual gabah. Ia mengaku sudah menyimpan gabah hasil panennya di lumbung untuk dijual pada saat harga bagus.
“Kebetulan saya juga menanam padi ketan dan hasilnya mencapai 1.153 kilogram gabah kering panen di luas lahan 125 ubin. Padahal, di lahan yang lain, hasil gabahnya agak jelek, karena hujan abu vulkanis Gunung Kelud beberapa waktu lalu. Saya lagi beruntung,” katanya.(tom/hes)