Penasaran untuk mengenal dan menjelajahi Indonesia, Deny Dwi Hermanto nekat bermotor keliling Indonesia seorang diri. Untuk mencukupi kebutuhannya, dia rela bekerja di kota yang dilewatinya.
Heru Pratomo, Jogja
Selama tiga tahun, Deny Dwi Hermanto atau yang akrab disapa Gempol ini berkelana seorang diri mengelilingi Indonesia. Itu dia lakukan sejak Mei 2010 hingga Mei 2013, dengan mengendarai motor sendirian. Pria asal Wonosari Gunung Kidul ini ingin memenuhi rasa penasaranya ingin mengetahui Indonesia seutuhnya, khususnya wilayah di luar Pulau Jawa.
Untuk itu selepas lulus dari bangku SMA Pembangunan Playen, Gempol membulatkan tekadnya. Hanya dengan bekal uang Rp 4 juta dan restu kedua orangtuanya, dengan mengendarai motor Supra X 2009, Gempol memulai perjalanannya. Gempol yang juga anggota komunitas Supra Mania Ngayogyokarto (Sumanto) ini memulai perjalananya ke barat, ke Pulau Sumatera. Tujuannya ke Pulau Sabang di Aceh Nangroe Darussalam (NAD).
“Sabang kan juga titik nol kilometer Indonesia,” ujar Gempol ketika ditemui di Stadion Mandala Krida Jogja, pekan lalu. Dari Aceh, Gempol terus menuju ke Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua hingga ke Merauke. Setelah itu kembali ke Sulawesi untuk menyeberang ke NTT, dilanjutkan ke NTB, Bali dan kembali ke Pulau Jawa.
Selama tiga tahun perjalananya keliling Indonesia, dia mengaku mendapat banyak pelajaran dan pengalaman. Terutama pelajaran untuk bisa hidup hemat dan saling berbagi. Selain itu, juga lebih mengenal karakter orang-orang Indonesia yang beragam. “Seperti di Indonesia Timur, yang katanya orangnya galak ternyata baik-baik,” ujarnya.
Hal itu juga berdasarkan pengalamanya tinggal selama enam bulan di Merauke. Ya, Gempol harus tinggal lebih lama di wilayah paling timur Indonesia tersebut karena bekal perjalananya sudah habis. Untuk bisa melanjutkan perjalanan, Gempol harus bekerja sebagai tukang las di Merauke. Menurut dia, dari hasil kerjanya tersebut, paling tidak dalam sehari bisa mengantongi uang Rp 100 ribu. “Tapi harga barang di sana juga lebih mahal,” tuturnya.
Uang yang didapatnya pun digunakan untuk bekal melanjutkan perjalanan. Terlebih rute berikutnya, Merauke ke Boven Digul sepanjang kurang lebih 500 kilometer merupakan jalan berlumpur. Gempol pun menyiapkan berbagai kebutuhan, seperti makanan dan juga bensin 10 liter yang dibawa menggunakan jerigen. “Juga membawa tambang untuk melilit roda,” ujarnya.
Perjalanan Merauke ke Boven Digul tersebut ditempuhnya dalam 13 hari. Selama itu pula pria kelahiran 18 November 1991 ini tidak mandi. Untuk tidur pun dipinggir jalan. Kondisi tidur di pinggir jalan, memang sering dilakoninya. Tetapi jika dalam perjalanan menemui kantor polisi, Gempol juga kerap bermalam di kantor polisi.
Dalam perjalananya, Gempol memang kerap minta bantuan ke polisi maupun tentara.Bahkan saat melanjutkan perjalann ke Jayawijaya, dia mendapat tumpangan pesawat Hercules.
Menurut dia, untuk menentukan rute perjalananya mengandalkan komunitas motor di setiap kota yang dilewati. Selain itu juga selalu meminta rekomendasi rute ke dinas perhubungan setempat, maupun ke polisi dan tentara. Itu juga untuk menghindarai melewati wilayah yang rawan. Hal itu terbukti ampuh, selama perjalanan Gempol mengaku tidak banyak mendapat hambatan.
Justru ketika menaiki kapal, saat hendak menyeberang dari Kalimantan ke Sulawesi, dia mendapat musibah, tasnya diambil orang. Beberapa piagam, maupun souvenir yang diberi selama perjalanan lenyap. Dalam perjalanan, Gempol memang banyak mendapat souvenir khas di tiap daerah. Tak heran, ketika pulang motornya harus diperpanjang dengan kayu untuk meletakkan souvenir.
Penampilan motornya pun berubah. Diakuinya hal itu justru membuatnya lebih diperhatikan orang. Tidak jarang, malah banyak orang yang merasa iba melihatnya. “Pernah waktu di Ende, nianta mau tidur di jalan, malah ditawari untuk tidur di rumahnya karena tertarik melihat motor yang berbeda, ” kenangnya.
Gempol mengaku di setiap wilayah yang dilewatinya mendapat sambutang hangat, baik dari omunitas motor disana maupun masyarakatnya. Sambutan berbeda justru diterimanya, saat kembali ke Jogja. Gempol malah mendapat hadiah tilang dari polisi. Hal itu karena saat hendak ke Jalan Malioboro dari Jalan Margo Utomo (Mangkubumi), dia langsung belok ke kanan tanpa melalui Jembatan Kleringan. “Lha dulu kan belum ada jembatannya, pas pulang gak ngerti kalau jalannya diubah,” ungkap Gempol yang sekarang membuka bengkel las di Jalan Wonosari ini.(*/din)