Ada nuansa berbeda dari acara Like the Unlike Film and Culture Festival yang diadakan di The Dusun Jogja Village Inn berakhir Selasa (18/3). Salah satunya soal seniman cross gender. Apa saja?
DWI AGUS, Jogja
Festival ini mampu menyajikan khazanah pengetahuan yang luar biasa. Selain menyajikan film-film yang memiliki konsep tidak biasa, acara yang digelar selama tiga hari dan ini turut menyajikan kekayaan kesenian.
Seniman tari Didi Nini Thowok pun turut hadir meramaikan acara ini secara khusus memperbincangkan tentang seniman cross gender. Cross gender bagi Didik adalah sebuah istilah terhadap sebuah kemampuan yang melintasi batas-batas seksualitas.
“Istilah ini menggambarkan bagaimana seorang seniman berkesenian di luar seksualitasnya. Misalkan untuk wanita menari gagah, dan pria menari tarian alus. Sejarah penari cross gender pun sudah ada di tanah Jawa dari dulu,” kata Didik.
Mengenai istilah ini, Didik masih prihatin karena beberapa masyarakat Indonesia masih belum bisa membedakan antara cross gender dengan seni pertunjukkan waria, gay, dan lesbian. Didik pun mengaku masih ada beberapa pandangan sinis tentang seniman cross gender ini.
Secara sejarah Didik mengungkapkan awal mula adanya seniman cross gender ini karena tuntutan sebuah norma. Seperti pada jaman dahulu wanita dilarang menari, terlebih di tempat umum. Maka posisi wanita akan digantikan oleh pria, meski harus menari gaya alus.
Di beberapa kesempatan yang semakin terbuka, para seniman tari wanita pun memiliki kesempatan yang sama. Ini ditunjukkan dengan semakin terbukanya kesempatan untuk wanita menari dengan gaya gagah. Hal inipun semakin memperkaya khasanah tentang kesenian di Indonesia.
“Awalnya hanya sebagai tatanan untuk mematuhi norma yang berlaku. Seiring waktu justru berkembang dan semakin menambah nilai dalam berkesenian,” kata Didik yang juga menampilkan tarian khusus saat itu.
Meski mengalami perkembangan dari sisi bawah, adanya berbagai kebijakan justru memasung nilai kesenian ini. Bahkan Didik merasa Indonesia tertinggal dibandingkan negara lain seperti China, Jepang, dan India.
Ketidakpahaman ini menurut Didik tidak hanya dialami masyarakat awam namun justru para pemangku kepentingan. Disahkannya Undang Undang Penyiaran yang awalnya ditujukan kepada presenter di televisi yang berdandan dan berprilaku ala waria, justru disamaratakan dengan seni pertunjukkan cross gender.
“Inilah kesedihannya, di satu sisi memang bagus peraturan ini. Tapi imbasnya justru dismaratakan hingga seniman cross gender, ini yang disayangkan. Kemungkinan para pembuat undang-undang itu tidak mengerti sejarah,” kata Didik.
Direktur Festival Film Like the Unlike Indonesia Paul Yuwono mengungkapkan, festival film ini harapannya bisa menjadi jendela ilmu pengetahuan yang baru. Paul mengungkapkan Festival Like the Unlike Film mengajak orang untuk berpikir di luar kebiasaan.
“Sesuai tema yaitu Crossing Borders dimana nilai kreatifitas dan seni itu tidak terbatas. Inipun turut mengajak berpikir keluar dari kotak, melintasi batas, dan keterbatasan. Baik melalui media film atau dengan kesenian yang ditampilkan ini,” kata Paul. (dwi/din)