Wage Rudolf (WR) Supratman merupakan tokoh nasional yang hebat dalam membangkitkan semangat perjuangan dan patriotisme. Lagu Indonesia Raya jadi bukti otentiknya. Karyanya selalu dikumandangkan di seluruh penjuru negeri.
Apa yang terjadi, jika lagu itu dinyanyikan di rumah kelahiran WR Supratman di Dusun Trembelang. Ini pula yang dilakukan siswa-siswi SMP WR Supratman Somongari, Selasa (19/3). Tepat hari kelahiran sang maestor, mereka datang ke rumah kelahiran WR Supratman atau Memorial House WR Supratman di Dusun Trembelang.
“Kami rutin melakukan napak tilas WR Supratman setiap tahun. Kegiatan ini dilakukan tepat saat hari kelahiran tokoh kebanggaan kami. Selain berupacara, kami menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sejulah lagu ciptaan beliau. Ini diakhiri doa dan membersihkan tempat bersejarah ini,” jelas Suyono, kepala SMP WR Supratman, baru-baru ini (19/3).
Suyono meneruskan, ada 40 siswa yang ikut dalam kegiatan itu. Mereka diajak bangga, diminta menghayati perjuangan yang dititiskan tokoh nasional yang lahir di desanya.
“Menyanyikan lagu Indonesia Raya seperti apapun bunyinya terasa beda. Dada seolah berdegup kencang dan mengembang. Kami bangga dengan beliau (WR Supratman, Red) dan merasa senang jadi warga Somongari,” ungkapnya.
Siswa Kelas VII SMP WR Supratman Andariah, 11, mengungkapkan hal senada. Ia beruntung mengikuti kegiatan tersebut.
“Kendati lokasinya jauh di pegunungan, saya senang. Saya merasa memiliki beliau,” ungkapnya polos.
Tidak kalah bangganya, Dodi Wijaya, 35, warga Donorejo Kaligesing. Ia sengaja ke Memorial House WR Supratman di Dusun Trembelang bertepatan ulang tahun sang maestro.
“Sebagai generasi bangsa, saya bangga. Bagaimana bisa meneruskan perjuangan, karena bangga saja tidak bisa,” ungkap Dodi, Caleg Hanura Dapil I (Kaligesing, Purworejo, Red) itu.
Merunut sejarah, WR Suptarman sempat diklaim lahir di Jatinegara, Jakarta pada 9 Maret 1903. Bahkan, saat Megawati jadi presiden RI, tanggal itu sempat ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional.
Namun Pemkab Purworejo merasa perlu meluruskan. Karena, pihak keluarga lebih meyakini, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya itu lahir pada 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Purworejo.
Keyakinan keluarga dan warga Purworejo semakin tebal, setelah pada 29 Maret 2017 Pengadilan Negeri (PN) Purworejo resmi memutuskan 19 Maret 1903 di Dusun Trembelang merupakan tempat dan tanggal lahir WR Supratman.
Seolah tak terbantahkan seperti tanggal kematian beliau pada 17 Agustus 1938. WR memang dimakamkan kompleks makam WR Supratman Jl. Kenjeran Surabaya, Jawa Timur.
WR Supratman merupakan aktor tunggal saat membidani lagu Indonesia Raya. Lagi kebangsaan yang sampai kini terus berkumandang itu, lahir tahun 1924. Pada 28 Oktober 1928 tepatnya di Jakarta, lagu itu pertama kali didengungkan di depan umum dalam Kongres Pemuda II yang dikenal sebagai titik tonggak kelahiran Sumpah Pemuda.
Sebagai pencipta, WR Supratman tidak sempat menikmati hidup dalam suasana kemerdekaan. Ia masih terus diburu polisi Hindia Belanda hingga akhirnya jatuh sakit di Surabaya. Lagu ciptaannya yang terakhir adalah Matahari Terbit yang dibuat awal Agustus 1938.
Beliau ditangkap saat menyiarkan lagu tersebut bersama pandu-pandu di NIROM, Jalan Embong Malang – Surabaya. Kemudian, ia dijebloskan ke Penjara Kalisosok (Surabaya), hingga ajal menjemput beliau pada 17 Agustus 1938.
Ironisnya, gelar pahlawan nasional melekat pada WR Supratman. Namun, kondisi rumah tempat kelahirannya di Dusun Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing justru memprihatinkan.
Pemkab Purworejo memang sudah merenovasi dan merehabilitasi. Tetapi belum maksimal. Rumah joglo sederhana masih berlantai tanah liat. Sekitar 2007, Pemkab Purworejo berinisiatif membeli tanah dan rumah tersebut untuk dijadikan memorial house.
Atap dan dinding rumah diganti kayu yang lebih baik. Halaman rumah dan ari-ari (ketuban,Red) WR Supratman di depan rumah juga diberi atap dan dipondasi.
“Kalau bentuk dan kondisi rumah sama seperti ini. Hanya sampai saat ini belum ada listriknya. Sebetulnya jaringan listrik sampai ke belakang rumah. Tinggal disambungkan saja,” ungkap Panut Maryono, penjaga Memorial House WR Supratman.
Budayawan Purworejo Soekoso DM mengaku prihatin atas kondisi rumah kelahiran WR Supratman di Dusun Trembelang yang belum pas untuk tokoh sebesar WR Supratman.
“Pemerintah bisa lebih memperhatikan kondisi ini. WR Supratman juga tokoh pendiri bangsa. Sepantasnya ia mendapat perhatian,” katanya.(*/hes)