MAGELANG – Kurangnya perhatian pada wahana yang dioperasikan, jetcoaster di Taman Kyai Langgeng (TKL) Kota Magelang tiba-tiba macet saat dioperasikan. Saat itu, belasan penumpang dari SD Negeri 1 Plawangan, Rembang tengah menaikinya dan posisi jetcoaster menikung.
Tak pelak, para siswa panik dan berebut ingin keluar. Akibatnya, mereka justru luka lebam dan lecet akibat terjepit pintu wahana. Selain itu, mereka juga mengalami shock.
Rusaknya wahana ini terjadi pukul 08.30. Saat itu, sebuah roda anjlok dari relnya. Anjloknya gerbong yang tengah menikung, merusakkan rel yang tua dan rapuh.
“Kereta tiba-tiba berhenti, karena roda salah satu gerbang lepas dan anjlok dari rel. Akibatnya enam gerbong berhenti mendadak di saat berbelok di tikungan yang tajam. Beberapa bantalan rel rusak dan patah,” ungkap Operator jetcoaster, Heri, kemarin (20/3).
Ditambahkan Isnaeni, 45, saksi mata yang tengah menunggu anaknya yang akan naik wahana tersebut, jetcoaster anjlok pada ketinggian 10 meter dari tanah. Karenanya, seluruh penumpang histeris dan panik.
“Anak-anak terjebak di atas. Mereka menjerit ketakutan. Beruntung tidak ada yang jatuh. Saya langsung mencari petugas menolong mereka,” katanya.
Sejumlah orang langsung menolong mereka. Ada menggunakan tangga, ada pula yang memanjat besi-besi penyangga jetcoaster. Tujuh korban segera dibawa ke RS Harapan dan mendapat perawatan dari dr Rini Isyunti.
Kebanyakan luka yang dialami korban tidak parah. Hanya, anak-anak mengalami syok.
“Kata dokter, anak-anak tidak ada masalah. Hanya syok, lecet, lebam, dan nyeri. Dokter hanya memberi obat oles untuk menyembuhkan luka memar dan lebamnya,” ungkap Zuhri, 54, salah satu guru yang mendampingi para siswa.
Kunjungan SD Negeri 1 Plawangan, Rembang ke TKL Kota Magelang dalam rangka rekreasi. Mereka menggunakan dua bus berisi 108 siswa plus guru. Setelah mampir di TKL, rencananya akan melanjutkan ke Candi Borobudur dan Taman Pintar Jogja.
“Baru pertama kali ke TKL dan jelas anak-anak trauma atas kejadian ini. Pihak TKL sudah bertanggung jawab atas pengobatan siswa dan memberi uang Rp 50 ribu per siswa untuk pijat. Kami harap pengelola lebih memperhatikan jetcoaster agar kejadian serupa tidak terulang lagi,” pintanya.(dem)