JOGJA – Puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (Pembebasan)kecewa terhadap sistem Pemilu di Indonesia.
Dengan menyilang poster seluruh partai peserta Pemilu, mereka melakukan aksi long march dari Taman Parkir Abu Bakar Ali hingga ke Titik Nol Malioboro kemarin (20/3).
Ketua Umum Pembebasan Arie Nasrullah Lamondjong menilai, sistem demokrasi di Indonesia masih prosedural. Mereka menilai demokrasi baru sebatas selebrasi lima tahunan saja, namun tidak menyentuh secara keseluruhan.
Menurutnya, masyarakat Indonesia bisa memilih wakil atau pun pemimpinannya secara langsung memang dinilai sebagai kemajuan. Sayangnya rakyat hanya dilibatkan dalam proses pemilu saja. Namun dalam proses politik lainnya, keikutsertaan masyarakat dinilai minim.
“Secara prosedural, tidak ada ruang yang leluasa untuk para konstituen untuk menarik suaranya kembali apabila legislator yang dipilih tidak amanah,”kata dia di sela- sela aksi.
Selain itu, calon legislator (caleg) yang disuguhkan oleh partai kepada masyarakat dinilai berkualitas rendah. Itu karena partai tidak menempa kualitas dan kapabilitas calegnya dengan sungguh – sungguh.
Begitu pun dengan calon presiden yang dimunculkan. Para mahasiswa ini kecewa karena figur yang muncul memiliki track record pelanggaran HAM dan tidak berpihak pada masyarakat kecil. “Jadi tidak heran kalau kian hari perilaku kotor parpol dan politisinya kian mengemuka ke masyarakat,”tambah Arie.
Pembebasan yakin bahwa angka Golongan Putih (Golput) akan semakin meningkat dikarenakan kekecewaan masyarakat pada partai politik maupun politisinya. Menurut Arie, angka golput terus naik pada Pemilu 1999 (6,3 persen), Pemilu 2004 (16 persen), Pemilu 2009 (29,1 persen). “Masyarakat menjadi apatis,”kata dia. (hed/din)