PURWOREJO – Banyak cara dilakukan para calon legislatif (caleg) peserta Pileg 2014. Tidak cukup berkampanye dan sosialiasi. Di antara mereka ada juga yang mendatangi tempat-tempat yang dinilai sakral dan memiliki tuah. Mereka datang untuk mencari berkah agar lolos menjadi wakil rakyat.
Salah satu tempat yang ramai dikunjungi para caleg adalah Petilasan Nyi Bagelen di Dusun Krajan, Desa Bagelen, Purworejo.
“Biasanya, mereka datang mencari berkah dan berdoa, berharap hajatnya menjadi wakil rakyat terkabul,” ungkap Budi Pranoto, 78, juru kunci Pesarean Nyi Bagelen, kemarin (20/3).
Budi mengungkapkan, caleg yang datang tidak hanya dari Purworejo. Mereka datang dari sejumlah daerah lain di Indonesia.
“Tidak hanya DPRD kabupaten. Caleg provinsi dan DPR RI juga banyak yang datang ke sini,” ungkapnya.
Menurut Budi, rata-rata dua sampai tiga caleg ke Petilasan Nyi Bagelen setiap hari. Hal ini terjadi sejak dua bulan terakhir.
“Kebanyakan datang malam hari. Bisanya caleg berdatangan hingga dua minggu jelang pemilihan. Ini menjadi fenomena setiap jelang pemilu,” ujarnya.
Para caleg datang lengkap dengan ubo rampe. Seperti bunga setaman dan perlengkapan lainnya. Mereka datang dan menemui juru kunci untuk diantar masuk ke dalam bangunan pesarean, kemudian membacakan doa dan yasinan.
“Bukan mendahului Yang Kuasa, biasanya yang datang ke sini terkabul alias terpilih saat pemilu. Apalagi setelah legislatif ada pemilihan presiden, biasanya tim sukses para calon banyak yang datang ke sini,” imbuhnya.
Ia mejelaskan, Nyi Bagelen dianggap tokoh yang dekat dengan Tuhan. Tidak heran, masyarakat banyak yang mengirim doa kepadanya. Kendati sebagai juru kunci, ia tidak melarang siapa saja yang datang memohon. Namun, yang jelas doa itu sepatutnya ditujukan pada Tuhan.
“Nyi Bagelen sebagai sosok dipercaya dekat dengan Pencipta, hanya sebagai perantara. Saya sering mengingatkan pada para caleg untuk tidak mengumbar janji ketika berdoa di pesarean. Manusia tempatnya lupa, kalau janji tidak ditepati, pasti kena hukumannya. Sudah banyak cerita orang kena kutuk karena melanggar janjinya,” jelasnya.
Terpisah, Wakil Ketua DPRD Purworejo Angko Setyarso Widodo menyatakan, caleg datang ke tempat bersejarah dan meminta dikabulkan hajatnya menjadi anggota dewan sering terjadi. Namun, itu merupakan tindakan yang tidak wajar.
“Kalau datang lalu mendoakan arwah leluhur itu bagian kearifan lokal dan kebudayaan yang lumrah dan perlu dilestarikan. Jika minta macam-macam, itu tidak wajar,” ucapnya.
Angko menuturkan, dua kali mengkuti sukses pileg, dirinya juga menempuh cara spiritual. Dirinya tidak ke makam, melainkan silaturahmi ada ulama, serta minta doa restu dan dukungan.
“Secara pribadi berdoa ada Tuhan. Alhamdulillah, ya berhasil,” tuturnya.
Menurutnya, seharusnya caleg menyosialisasikan visi dan misi, serta aktif membantu masyarakat. Ini merupakan bukti, caleg layak menjadi wakil rakyat yang kompeten dipilih.
“Buktikan kalau maju pileg untuk membela masyarakat, sosialisasikan program dengan baik. Kalau diterima masyarakat, pasti dipilih,” jelasnya.(tom/hes)