Bangsa yang besar memiliki pemimpin dan warga yang saling mendukung. Tanpa itu, bangsa akan runtuh. Seorang pemimpin pun wajib jadi panutan.
DWI AGUS, Jogja
Jumat malam (14/3) Pendopo Condronegaran di Gedongkiwo, Mantrijeron terlihat semarak. Barisan Bregodo berbaris rapi di sebelah Pasar Condro seakan menyapa para pengunjung. Menggenakan seragam kebesaran, musik khas bregodo pun menemani lorong sepanjang jalan menuju Pendopo Condronegaran.
Malam itu, pendopo yang merupakan Ndalem Kepangeran Kraton Jogjakarta itu memainkan perannya. Pendopo yang saat ini dirawat Fakultas Pendidikan UNY ini menjadi tempat pementasan wayang orang (WO) Panca Budaya yang mementaskan lakon Sumantri Gugah.
Ketua WO Panca Budaya Agus Setiawan mengungkapkan, pementasan wayang orang kali ini sarat akan makna. Meski disajikan sebagai hiburan, cerita dalam Sumantri Gugah ini sangat mencerminkan tata cara hidup dalam sebuah negara.
“Sumantri itu adalah ajudan dari Raja Harjuno Sosrobau yang diminta untuk melamarkan Dewi Citawati. Sebagai ajudan tentunya Sumantri menuruti apa yang dikehendaki rajanya. Namun saat menyelesaikan tugasnya justru terjadi konflik,” kata Agus.
Agus menjelaskan, saat Sumantri menyelesaikan tugasnya, timbul pikiran jahat. Ini karena saat melamar Dewi Citrawati, Sumantri mampu mengalahkan ratusan raja yang turut melamar. Sebelum menyerahkan Dewi Citrawati, Sumantri pun menantang sendiri rajanya.
Lakon ini menggambarkan ketika seorang ajudan membangkang terhadap Rajanya. Ini karena sang Raja tidak terlalu tegas dan menyerahkan segala tugas kepada ajudannya. Agus mengungkapkan di sinilah sisi di mana Harjuno merasa tergugah sebagai pemimpin.
“Saat menjadi pemimpin sudah sepatutnya menjalankan amanat rakyat. Meski memiliki jajaran yang kuat, alangkah baiknya sang raja juga turun langsung dalam memimpin. Tujuannya agar menghilangkan keraguan para ajudan dan juga rakyatnya,” kata Agus.
Fase adegan berikutnya adalah ketika Sumantri tergugah bantuan adiknya, Sukrosono. Meski memiliki fisik yang buruk rupa, Sukrosono sangat menyayangi kakaknya. Sebagai sang kakak, Sumantri pun awalnya kurang menyenangi Sukrosono karena fisiknya.
Padahal di sisi lain, sosok Sukrosono ini merupakan tokoh yang memiliki kekuatan lebih. Bahkan dalam suatu kesempatan Sukrosono dengan sukarela membantu sang kakak ketika mendapatkan tugas dari Raja Harjuno.
“Waktu itu Sumantri menyerah ketika diminta memindahkan Taman Sriwedari. Sukrosono pun rela membantu meski diemohi sang kakak. Waktu melihat ketulusan Sukrosono, Sumantri pun tergugah dan akhirnya meminta maaf kepada adiknya,” kata Agus.
Kisah ini menggambarkan jika sebagai pemimpin atau rakyat biasa jangan menyepelekan siapapun. Manusia memiliki dua sisi yang kadang berbeda. Kisah ini harapannya dapat dijadikan panutan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
WO Panca Budaya berdiri atas keprihatinan kelesatarian seni wayang orang di Jogjakarta. Kelompok yang berdiri November 2012 inipun memiliki anggota yang lengkap. Sesuai namanya, Panca Budaya merupakan wadah seniman wayang orang dari empat kabupaten dan Kota Jogja.
Pementasan itu merupakan pementasan ke-14 kelompok ini. Dalam melakukan pentas, kelompok ini memilih untuk terus keliling empat DIJ. Selain itu konsep pementasan kelompok ini juga unik, karena mengusung konsep wayang orang panggung.
“Anggota kelompok ini juga tergabung dalam kelompok di wilayah masing-masing. Wujud pelestarian tentunya diperlukan kesadaran semua pihak. Untuk anggota sudah berjalan regenerasinya hingga generasi muda,” kata Agus.
Dekan Fakultas Ilmu Pendiduikan UNY Hariyanto yang turut hadir menyambut positif pentas ini. Meski Ndalem Condronegaran statusnya sudah menjadi milik UNY, tetap mendukung berbagai pentas kesenian. Apalagi pentas ini merupakan wujud dari bentuk pelestarian kekayaan seni dan budaya yang dimiliki Jogjakarta.
Bangunan yang berdiri sejak tahun 1920 ini menurut Hariyanto merupakan Ndalem Kepangeran yang paling luas dari Ndalem Kepangeran yang lain. Pentas seni dalam bangunan bersejarah inipun menurut Agus merupakan tonggak aspek Kampung, Kraton dan Kampus.
“Tiga aspek ini menjadi satu kesatuan utuh untuk menghiasi kebudayaan di Jogjakarta. Bagaimana membangun kepribadian manjadi tiga pilar budaya menjadi pribadi yang menyatu dalam diri kita,” kata Hariyanto.
Pentas di Pendopo Condronegaran ini mampu mengukuhkan kegiatan yang selama ini sudah berlangsung di Gedongkiwo, Mantrijeron. Berdiri atas nama kelompok Ekspoliner acara pementasan wayang orang ini merupakan salah satu wujud menampilkan produk potensi.
“Potensi luar biasa, ada pengrajin blangkon, gamelan, sanggar karawitan, sanggar tari, batik, jamu, dan potensi kesenian lainnya. Kolaborasi ini harapannya tidak hanya sampai di sini, namun bisa berlanjut lagi kedepannya,” kata Ketua Ekspoliner Andang Suprihadi.(*/din)