MUNGKID – Hasil olah pertanian tiga desa di lereng Merapi terancam tidak maksimal. Ini menyusul ambrolnya saluran irigasi di Kali Pabelan yang ada di dekat Desa Krogowanan Sawangan.
Tidak hanya itu, putusnya saluran irigasi juga mengancam 400 hektare sawah di tiga desa, yaitu Desa Krogowanan, Sawangan, dan Gondowangi di Kecamatan Sawangan.
Talud penahan bangunan saluran irigasi yang juga penahan aliran lahar dingin tersebut ambrol pascabencana banjir lahar dingin, Selasa (18/3). Talud itu diterjang banjir lahar dingin yang terjadi dari lereng Merapi. Ketinggian talud sekitar 10 meter dengan panjang 20 meter dan sudah ambrol. Padahal saluran irigasi tersebut untuk mengairi 400 hektare lahan persawahan di tiga desa.
Juwarno, petani di Krogowanan menduga, talud tak kuat menahan terjangan banjir lahar dingin. Tepatnya, saat hujan deras terjadi di puncak Merapi. Akibatnya pondasi talud amblas dan bangunan talud ikut ambrol.
“Karena tidak kuat menahan arus banjir lahar, jadi ambrol,” ungkap Juwarno, kemarin (20/3).
Melihat kondisi tersebut, ia khawatir pertanian di desanya akan terganggu. Karena itu, ia bersama petani lainnya berharap pemerintah segera memperbaiki talud yang ambrol tersebut. Sehingga keberadaan talud yang rusak tidak mengancam saluran irigasi.
Kini, pecahan bangunan talud masih ada di lokasi. Beberapa puing bangunan juga masih ada, menempel di sekitar bangunan. Sementara serpihan bangunan yang lain terbawa material banjr lahar dingin.
Tidak hanya saluran irigasi di Sungai Pabelan yang terancam, pipa saluran air bersih bagi warga Desa Krogowanan di dekat saluran irigasi juga terancam putus.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Joko Sudibyo menyatakan, sudah meninjau lokasi ambrolnya talud. Dirinya juga telah melaporkan talud yang ambrol ke Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO).
“Saya sudah lihat bersama kades di lokasi talud yang ambrol. Kami juga berkoordinasi dengan BBWSSO dan masih dalam kajian,” katanya.
Menurut Joko, ambrolnya talud itu sudah kali kedua. Pada banjir lahar dingin yang terjadi beberapa minggu lalu, talud sudah ambrol. Pada banjir lahar dingin yang terjadi Selasa (18/3) lalu, talud irigasi semakin melebar.
Ia meminta masyarakat selalu waspada terhadap bencana. Mengingat saat musim hujan ini, ancaman bencana seperti angin kencang, longsor, dan banjir masih ada.
“Kemungkinan musim hujan seperti ini terus berlangsung hingga akhir Maret,” kata Joko.(ady/hes)