Raut muka Jono terlihat bahagia, saat di Masjid Masjid Darul Kaffah, kemarin (23/3). Senyumnya mengembang. Pria berusia 52 tahun ini terlihat berbunga-bunga dan terus menebar senyum. Sesekali ia menyeka keringat di mukanya.
Jono merupakan satu dari delapan pasangan yang ikut pernikahan massal. Jono menikah dengan Suwarni, perempuan yang kini menginjak usia 45 tahun.
Ya, rasanya seneng setelah menikah ini,” ungkap Jono, usai akad nikah.
Warga Pogalan, Kecamatan Pakis itu jauh-jauh hari sudah mempersiapkan prosesi sakral tersebut. Ia selalu berkoordinasi dengan kepala dusun setempat guna mempersiapkan syarat pernikahan. Bagi Jono, pada usainya yang menginjak kepala lima, pernikahan tetaplah sesuatu yang penting.
Terlebih, pernikahan massal digelar tanpa ada pungutan alias gratis.
“Saya sudah saling mengenal Suwarni sekitar tiga tahun lalu. Mendengar ada pernikahan massal, saya memutuskan ikut,” jelasnya dengan bahasa Indonesia.
Ia mengaku pernikahan tersebut untuk yang kedua kalinya. Sebelumnya Jono pernah menikah dengan saudara perempuan dari Suwarni. Karena istrinya meninggal dunia, kemudian ia mengenal Suwarni dan memutuskan menjalin hubungan yang serius.
“Harapannya ya semoga kami bisa hidup tenteram,” katanya.
Selain pasangan suami Jono, juga terlihat pasangan suami-istri lainnya yang ikut pada pernikahan massal tersebut. Semua yang ikut tidak ada yang berusia remaja. Rata-rata dilihat dari raut mukanya, para pengantin sudah berkeriput. Rata-rata, usia pasangan suami-istri sudah berkepala 40-60 tahun. Hanya ada satu pasangan yang ikut menikah massal itu berusia 28 tahun.
Pengasuh Yayasan Darul Kaffah Nirmala, KH Muhammad Farid Yunus menjelaskan, pernikahan massal itu diikuti delapan pasangan. Menurut Farid, digelarnya pernikahan massal itu tidak lain untuk beribadah. Yang mana, pernikahan massal itu sebagai langkah antisipasi dari pergaulan bebas.
“Kami gratiskan untuk memberi kesempatan apda orang-orang yang sudah berniat menikah, tetapi terkendala biaya,” imbuhnya.
Pria yang sering dipanggil Farid Alwan ini meneruskan, delapan pasangan suami-istri (pasutri) itu berasal dari berbagai kecamatan. Di antaranya, dari Kecamatan Salam, Srumbung, Sawangan, dan lainnya. Mereka yang ikut nikah massal adalah Mujar menikah dengan Pondok, Hariyanto dan Thuplik, Sapar dengan Poni, Seman mendapatkan Paintuk. Berikutnya, Sutris menikahi Dermi, Suwadi dengan Mukinah, Jono mendapatkan Suwarni, serta pasangan Rohman dan Suwarni.
“Harapan dari pernikahan massal ini ada dua. Pertama, pernikahan massal ini bisa mengurangi kemaksiatan dan fitnah. Tujuan lain, menunjukan yayasan ini benar-benar mengurusi kegiatan sosial,” jelasnya.
Selain menggelar, pernikahan massal, yayasan tersebut juga sering mengadakan kegiatan sosial lainnya. Seperti, sunat massal bagi 36 anak-anak yatim tahun yang digelar tahun lalu. Sunatan masal sudah menjadi agenda tahunan.
“Hal yang sama juga untuk pernikahan massal. Kami akan agendakan setiap tahun,” katanya.(*/hes)