BANTUL – Sebanyak 18 mahasiswa UMY dan 25 mahasiswa Polytechnic Singapore terjun ke Desa Santan Bantul dan Badran Jogja. Mereka ada di dua lokasi tersebut dalam rangka Asean Connect, Minggu (23/3).
Asean Connect merupakan program yang digagas Singapore Polytechnic untuk meningkatkan kerjasama people to people antar-mahasiswa. Program tersebut sebagai langkah antisipatif penerapan masyarakat ekonomi Asean pada 2015.
Mengusung tema Social Enterprising, melalui program ini diharapkan mahasiswa mampu meningkatkan kemampuan problem solving skills. Terutama mengatasi masalah sosial di masyarakat dengan menerapkan ilmu-ilmu atau konsep yang didapat di kuliah.
“Harapannya mahasiswa bisa mengidentifikasi persoalan sosial lewat observasi dan wawancara dengan penduduk. Selanjutnya memunculkan ide kreatif mengatasi masalah tersebut,” kata Rudy Suryanto, dosen pendamping.
Seperti kasus di Badran, di sana warga kekurangan air bersih. Hasil observasi tersebut akan dipresentasikan kepada masyarakat untuk mengaplikasikan konsep yang telah dirancang.
Selanjutnya akan ada proses monitoring untuk mengukur dampak yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Proses monitoring dibagi antarmahasiswa lewat media sosial atau email.
Keberhasilan proyek ini dapat dilihat dari interaksi antara mahasiswa Polytechnic Singapore dan UMY dalam mengelola proyek bersama. “Harapannya hal ini bisa menjadi pijakan untuk kerjasama yang lebih luas di masa mendatang,” kata Rudy.
Merilyn, salah seorang mahasiswi Polytechnic Singapore, berharap dapat mengaplikasi ilmu melalui Asean Connect. “Senang sekali bisa ikut program ini. Bisa belajar banyak tentang cara mengidentifikasi masalah dan menyelesaikannya,” kata dia. (mey/iwa)