Kematian memang bisa datang kapan dan dimana saja. Seperti dialami pelajar SMK Tanjungsari, Dwi Supriyanto, 17, meninggal dunia di laut lepas saat perjalanan pulang dari praktek kerja industri (Prakerin).
GUNAWAN, Playen –
SUASANA duka menyelimuti perkampungan Banaran IX, Banaran, Playen kemarin (23/3). Salah seoarang warganya, Dwi Supriyanto meninggal dunia di usianya yang masih muda. Siswa kelas XI jurusan Tehnika Kapal Penangkap Ikan(TKPI) itu sakit dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir di kapal nelayan yang dia tumpangi bersama enam rekannya.
September lalu, Dwi Supriyanto mengikuti Prakerin di kapal motor (KM) Bandar Nelayan no 293. Setelah enam bulan mengikuti tugas sekolah, ia dijemput pulang bersama enam kawannya. Menurut keterangan Kepala Sekolah SMK Tanjungsari, Sudiyanto berdasarkan informasi kapten kapal dan teman-teman korban, kondisi Dwi mulai drop saat pindah pindah kapal. Selama satu minggu, korban susah makan. Puncaknya pada Sabtu (15/3), korban sempat muntah-muntah sebelum akhirnya meninggal dunia.
Jenasah korban kemudian disimpan ke dalam ruang pendingin hingga tiba di Bali pada Sabtu (22/3). Sesampai di Bali, korban langsung dibawa ke RS Sanglah Denpasar untuk keperluan otopsi. Namun karena pihak keluarga sudah ikhlas, jenasah akhirnya hanya divisum luar saja.
“Dari hasil visum, korban diketahui meninggal dunia karena sakit. Petugas medis yang melakukan pemeriksaan tidak menemukan tanda-tanda penganiayaan. Di tubuh korban hanya ditemukan bekas kerikan,” kata Sudiyanto.
Korban kemudian diserahkan kepada pihak keluarga. Sementara enam rekan korban bersama anak buah kapal dalam satu kapal saat ini masih diperiksa oleh Polair Bali. Kemudian jenasah sendiri tiba di rumah duka, kemarin (23/3) pagi.
Jenasah Dwi Supriyanto tiba di rumah duka sekitar pukul 08.00 setelah sebelumnya diterbangkan dari Bali melalui Bandara Adisucipto Jogjakarta. Pemakaman siswa kelas XI jurusan Tehnika Kapal Penangkap Ikan (TKPI) tersebut dilaksanakkan dengan upacara kedinasan. Isak tangis teman-teman korban langsung pecah begitu peti mati dimasukkan ke dalam liang lahat. Sementara ayah Dwi, Sunarto hanya bisa tertegun dan berusaha tabah. “Maaf, saya belum bisa bicara apa-apa,” orang tua korban Sunarto usai prosesi pemakaman.
Salah seorang teman sebangku korban, Aji Kurniawan mengungkapkan sebelum meninggal, korban menghubungi dirinya melalui short massage service (SMS). Pihaknya tidak menyangka ternyata isi pesan singkat itu adalah kata-kata terakhir korban.
“Sebelum pulang itu, Dwi sempat mengajak perbaiki motor bareng setelah tiba di rumah. Orangnya baik dan mudah bergaul,” kenangnya. (gun)