BANTUL – Sekolah-sekolah internasional yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama seharusnya dimonitor pemerintah. Jika hal tersebut dibiarkan, akan semakin banyak pelajar yang fasih berbahasa Inggris ketimbang bahasa ibu (Bahasa Indonesia).
Demikian dikatakan pengajar University of Tazmania Prof Pamela Allen di sela wisuda Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Jogjakarta yang digelar di Jogja Expo Center (JEC) Sabtu (22/3). Doktor lulusan Sydney tersebut menyarankan agar penggunaan bahasa ibu di sekolah, tetap menjadi yang utama dibandingkan dengan bahasa lain.
Profesor yang selama 40 tahun menggeluti sastra Indonesia ini mengatakan, supaya tetap menjadi bahasa ibu pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah tidak hanya mempelajari gramatika saja. Siswa juga harus dikenalkan sastra Indonesia yang memiliki nilai lebih dalam.
“Saat pelajar diajarkan tentang sastra dari negaranya sendiri, secara langsung mereka mempelajari bahasa. Tidak hanya itu mereka akan mendapatkan nilai filsafat dari sastra yang dipelajari,” terang Pamela.
Dia prihatin karena makin banyak orang Indonesia yang mahir berbahasa Inggris dengan benar, ketimbang berbahasa ibu. Bahkan hal tersebut ditunjukkan orang-orang di parlemen atau pemerintahan yang justru bangga menggunakan Bahasa Inggris ketimbang Bahasa Indonesia di suatu forum.
Sementara di Australia perhatian terhadap kajian budaya Indonesia sebelumnya sangat besar. Namun sejak era Perdana Menteri John Howard sekolah-sekolah program Bahasa Indonesia banyak yang tidak diteruskan. Akibatnya sangat sedikit orang Australia yang benar-benar memahami bahasa dan budaya Indonesia.
“Orang Australia tidak menyadari kerumitan dan budaya Indonesia yang beraneka ragam,” jelasnya.
Sementara itu, dalam wisuda tersebut UAD meluluskan 663 mahasiswa dan memperoleh gelar sarjana dan magister. Untuk lulusan sarjana terbaik dengan IPK tertinggi diraih Yuyun Sundari dari Prodi Akuntansi dengan IPK 3,90.
Sedangkan lulusan tercepat dengan masa studi tiga tahun empat bulan 23 hari diraih Armawan dari Prodi Ilmu Hukum.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UAD Abdul Fadlil mengatakan selain memberikan penghargaan bagi lulusan terbaik, UAD juga memberikan penghargaan pada mahasiswa berprestasi non-akademik. “Kami akan terus mengembangkan kerjasama dengan semua pihak baik skala nasional maupun internasional untuk meningkatkan kualitas para sarjana,” kata Fadlil. (bhn/iwa)