Lama tidak terlihat di layar kaca sebagai pembawa acara kuliner, Benu Buloe kini muncul dengan profesi barunya. Penulis buku. Ya, buku yang ditulisnya pun tak jauh-jauh dari dunia yang membesarkannya, kuliner.
DWI AGUS, Sleman
SUARA tawa terdengar riuh dari joglo utama pondok makan Pelem Golek di Jalan Palagan Tentara Pelajar siang kemarin (24/3). Seorang pria berkulit hitam dengan rambut ikal rupanya yang menjadi sumber meledaknya tawa tersebut.
Belasan pengunjung rumah makan mengerubuti pria itu dan minta untuk foto bersama. Ya, pria itu adalah Benu Buloe, yang pernah menjadi host acara kuliner di salah satu televisi swasta.
“Ayo siapa lagi yang mau foto bareng, dapat tanda tangan juga dari saya. Tapi syaratnya mau foto sama saya, nanti saya unggah di web kuliner punya saya,” kata pemilik nama asli Ibnu Sakdan itu dengan semangat.
Kedatangan Benu ke Pelem Golek kemarin bukan untuk liputan acara kuliner. Tetapi, dia tengah mempromosikan buku kulinernya yang baru berjudul Jamak ala Benu Buloe. Buku itu sudah diluncurkan pada 26 Februari lalu.
Jamak dalam judul buku pertamanya itu merupakan akronim dari jalan dan makan. Buku setebal 168 halaman itu mengulas secara unik dan menarik tentang kekayaan kuliner yang dimiliki Indonesia. Bahasa yang digunakan tidak serius, malah cenderung slang.
Meski begitu, informasi yang disajikan dalam setiap paragraf lebih gamblang dan langsung. Benu cukup detail mendiskripsikan kuliner yang telah disantapnya. Dari rasa, harga, lokasi hingga rekomendasi yang berwujud logo jempol.
“Wah kalau mau dikumpulkan sebenarnya bisa lebih dari satu buku Mas. Apalagi dunia kuliner sudah menjadi bagian dari hidup saya, melakoni pekerjaan yang juga bisa menjadi hobi,” kata pria kelahiran Aceh ini.
Benu mengungkapkan, bukunya menyajikan ragam kuliner dari 13 kota di Indonesia yang telah dia singgahi selama dia menjadi host acara kuliner. Total, ada 56 ragam kuliner yang dimuat dalam buku ini. Di setiap kota, kurang lebih ada 3 hingga 4 kuliner yang dia jajal cita rasanya.
Menggarap buku kuliner ini bagi Benu bukannya tanpa kendala. Salah satu kendala terbesarnya adalah ketika dia kehilangan hardisk eksternal miliknya yang berisi dokumentasi jelajah kuliner. Semula, dia berencana memasukkan 100 ragam kuliner dari seantero Indonesia dalam bukunya.
“Nah hardisk eksternal itu hilang karena dibawa teman, padahal di sana banyak dokumentasi kuliner. Untungnya masih ada data cadangan yang di laptop. Itu yang digarap hingga jadi Jamak ala Benu Buloe ini,” ceritanya.
Selain bercerita soal bukunya, Benu juga mengisahkan masa awal-awal dia menggeluti dunia kuliner pada 2006 silam. Benu mengatakan, awalnya tidak tetarik ikut program kuliner di televisi. Tapi karena bujukan dari produser program yang juga temannya sendiri, Benu pun luluh setelah seminggu menolak ajakan itu.
Oleh sang produser, Benu dituntut tampil kocak dan unik. Karena itu saat shooting perdana, Benu harus mengenakan kostum ayam berwarna hitam. Hanya muka dan telapak tangannya yang terlihat menyembul dari kostum ayam itu.
“Ingat, waktu itu menjajal kuliner di daerah Blok M Jakarta, awalnya malu tapi cuek saja. Awalnya bilang untuk pilot project, eee… tahunya kok buat edisi perdana dan tayang. Tapi waktu itu share rating-nya besar, 14 persen dari tingkat tontonan nasional,” kenangnya.
Kostum ayam ini pun awal persahabatan Setelah shooting perdana itu, Benu harus memakai kostum-kostum lain untuk episode berikutnya. Beberapa kali dia memakai kostum binatang, superhero atau tokoh lain. Dari semua kostum itu, Benu sangat senang memakai tokoh pewayangan. Alasannya, kostum wayang sangat bagus dan indah jika dipakai.
“Paling suka pakai kostum Gatotkaca, apalagi saat shooting di Jogjakarta beberapa kali juga pakai kostum ini. Kalau kostum lain juga pernah ditertawakan karena ada yang lucu. Tapi tetap ujung-ujungnya mereka tetap minta antre untuk foto bareng,” canda Benu.
Ragam kuliner yangt tersaji dalam buku perdananya ini telah melalui proses seleksi ketat. Bahkan sebelum pengambilan gambar untuk ditayangkan di televisi, tim program kuliner telah melakukan survey lebih dulu. Jika lolos akan dikunjungi oleh Benu bersama timnya.
Ini, menurut Benu, untuk menjaga akreditasi acara kuliner yang dibawanya. Benu bahkan sempat ikut dalam survey yang menurut pengalamannya tidak hanya dilakukan saat pra shooting. Tetapi juga setelah shooting.
Pernah suatu ketika Benu menyamar menjadi pembeli biasa dan menjajal kembali kuliner yang telah didatanginya. Ternyata, rasanya sudah berkurang, tidak seenak dulu sewaktu diliput. Ini sempat membuat Benu kecewa karena tempat kuliner ini tidak menjaga cita rasa yang disajikan.
“Ya tidak usah menyebut tempatnya, ada tempat yang kayak gitu juga. Jangan sampai lah kayak gitu karena kuliner kan juga termasuk sebuah produk, apalagi kuliner tradisional bisa digolongkan produk budaya. Sudah jadi ciri khas bahkan untuk suatu kota di Indonesia,” ingat Benu.
Setelah 7,5 tahun menjalani profesi sebagai host kuliner, Benu kini memilih mengundurkan diri. Itu karena dia divonis menderita sakit lambung akut oleh dokter yang memeriksanya. Akhirnya, pria yang pernah menjadi wartawan di Aceh itu memutuskan istirahat kurang lebih empat bulan dari dunia kuliner.
“Dalam proses penyembuhan inilah saya memilih pensiun dari dunia yang membesarkan saya. Tapi, tetap tidak bisa tinggal diam, sehingga dalam waktu istirahat itu menyusun buku dan jadilah Jamak Ala Benu Beloe ini. Ke depan saya akan tetap bekerja dalam dunia kuliner meski harus di balik layar,” kata Benu. (*/abd)