MUNGKID – Polemik polusi udara di Desa Sidoagung, Kecamatan Tempuran yang disebabkan asap dari suatu pabrik kayu masih berlanjut. Pihak SDN 3 Sidoagung mengadukan nasib siswanya yang sering terganggu karena asap dan debu yang berterbangan saat kegiatan belajar mengajar ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Magelang. Surat dikirimkan dengan nomor 421.2/73/20.11.21/SD/III/2014 itu tentang surat laporan adanya polusi udara di lingkungan SDN 3 Sidoagung, tertanggal 20 Maret 2014.
Kepala SDN 3 Sidoagung, Tutik Muryani menyatakan, surat aduan dikirimkan ke Disdikpora Kabupaten Magelang melalui Kepala Unit Pelaksana Tugas Disdikpora Kecamatan Tempuran Ishari. Melalui surat aduan itu, Tutik sapaanya ini berharapa segera ada tindak lanjut dari Disdikpora terkait kegiatan belajar mengajar siswa di ruang kelas. “Harapan kami tetap kepada perusahaan untuk segera memperbaiki cerobong asap sesuai aturan. Disdikpora dalam hal ini sebagai perwakilan kami,” ujar Tutik, kemarin.
Tutik mengaku bahwa sebelum pihaknya memutuskan mengirimkan surat aduan ke Disdikpora, sebelumnya sudah melakukan analisa. Dampak adanya asap dan serbuk gergaji kayu yang berterbangan saat kegiatan belajar mengajar dinilai membahayakan bagi anak didik. Selain itu juga dampak tidak baik yang ditimbulkan dari suara bising mesin produksi saat KBM berlangsung. “Menurut seorang yang terjun di bidang Lingkungan Hidup, produksi suatu perusahaan ada aturan yang jelas terkait dampak yang ditimbulkan dalam produksi. Misalnya, jarak perusahaan dengan lingkungan sekitar minimal 200 meter. Ada kolam air untuk meredam suara desis mesin saat produksi dan ada juga pohon-pohon besar disekitar pabrik agar dapat menyedot asap yang ditimbulkan dari pabrik,” jelasnya.
Kepala Desa Sidoagung Suparno menjelaskan, dari pengukuran yang dilakukan warga, diketahui jarak cerobong asap dengan bangunan SDN 3 Sidoagung sekitar 75 meter. Sementara tinggi cerobong asap sekitar 40 meter. Ukuran itu dinilai belum memenuhi standar suatu perusahaan.
Suparno mengaku, dari kondisi pabrik demikian, warga yang tinggal disekitar pabrik sudah terindikasi terkena berbagai penyakit. Diantaranya warga mengalami pusing-pusing, sakit mata, dan infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). “Kondisi itu hasil dari mahasiswa KKN dari Stikes Baru Raja Sumatera yang meneliti pada 24 januari 2014 lalu,” tegasnya.
Meski telah memberikan kompensasi sekitar Rp 500 ribu perbulan bagi Dusun sekitar, namun bukan berarti masalah selesai begitu saja. Dia tetap berharap dampak negatif yang ditimbulkan produksi pabrik dapat dihilangkan. “Harapanya bagaimana menghilangkan dampak negatif terhadap warga masyarakat. Dengan demikian, bukan berarti harus menutup pabrik. Cerobong misalnya dapat dipindahkan, atau seperti apa,” ungkap Suparno.
Saat dikonfirmasi, Perwakilan dari PT Surya Jawa Albasia, Sabdo Yuliarso mengelak bahwa dampak yang dimaksud dari pihak sekolah tidak benar adanya. Dia mengaku beberapa hari terakhir sengaja melihat secara langsung dampak asap dan serbuk yang dimaksud. Namun, hal itu tidak diketemukan.
Dia juga menjelaskan, bahwa PT Surya Jawa Albasia selalu melakukan uji laboratorium rutin setiap 6 bulan sekali. Dari hasil uji beberapa instansi, seperti Balai Kesehatan, hasil emisi, debu, dan dampak kebisingan selalu dibawah ambang batas. Dia mengaku terus mencoba untuk mengeliminir setiap 6 bulan sekali dari instansi yang terakreditasi. “Hasilnya tetap jauh dibawah ambang batas. Pada prinsipnya kita tetap mengutamakan simbiosis mutualisme,” tuturnya.
Sementara itu, Camat Tempuran, Darmono, mengaku akan segera menjembatani permasalahan tersebut. Pihaknya akan segera mempertemukan antara Kadus setempat, pihak desa, pengurus sekolah dan managemen pabrik. Dia berharap permasalahan ini dapat diselesaikan dengan baik. “Pertemuan ya secepatnya. Agar nantinya ada timbal balik saling menguntungkan,” katanya. (Ady)