WONOSARI – Penyakit Tuberkulosis (TBC) menjadi ancaman serius bagi warga Gunungkidul. Pasalnya, berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, dari 746.000 jumlah penduduk, 464 diantaranya terserang TBC.
“Penanganan penyakit TBC perlu kerjasama semua pihak. Penyakit TBC sebenarnya bisa dideteksi serta diobati hingga sembuh asalkan dengan ditangani secara maksimal,” kata Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Gunungkidul di acara peringatan Hari TBC se Dunia di Bangsal Sewakapraja Wonosari, kemarin (24/3).
Dia menjelaskan, Indonesia masuk kategori lima negara terbesar se dunia yang memiliki beban permasalahan tertinggi penyakit tersebut. Menurut Eko, penyakit TBC dapat menyerang siapa saja, baik anak hingga dewasa. Bahkan tingkat penyebaran cukup tinggi karena, satu penderita bisa menular kepada 10 sampai 15 orang per tahun. Penyakit ini berdampak pada kehilangan waktu, kerja dan meninggal dunia.
“TBC berdampak buruk secara ekonomi yang menyebabkan kemiskinan, kurangnya status gizi, pendidikan rendah dan munculnya stigma akibat dikucilkan masyarakat,”terangnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi yang juga hadir dalam kesempatan itu menuturkan, upaya penanganan dan pencegahan TBC memang perlu serentak dilaksanakan. Baik oleh pemerintah daerah, lembaga terkait dan peran serta masyarakat. Salah satunya caranya adalah dengan membangun lingkungan kondusif menuju bebas TBC. Selain itu, melakukan deteksi pada kelompok rentan seperti penderita diabetes mellitus, HIV Aids, ibu hami, anak gizi kurang dan binaan pemasyarakatan. “Perlu upaya penanganan serius untuk menyembukan penyakit tersebut,” ucapnya. (gun)