SELOKAN MATARAM : Saluran irigasi yang ada di wilayah Kabupaten Sleman membutuhkan lebih banyak petugas untuk menjaganya.
Penjaga Saluran Irigasi Minim
SLEMAN– Gencarnya upaya pemerintah melakukan konservasi dumber daya air ternyata belum didukung dengan ketersediaan jumlah sumber daya manusia (SDM) yang cukup. Ternyata di Sleman minim penjaga saluran irigasi.Kondisi itu dikhawatirkan bakal menimbulkan gangguan saluran, bahkan pencurian besi pintu air, seperti pernah marak beberapa waktu lalu.Anggota Komisi C DPRD Sleman Huda Tri Yudiana sering mendapat keluhan penjaga saluran irigasi yang harus bekerja ekstra karena keterbatasan personil. “Idealnya satu operator menjagai satu kawasan sepanjang 2,5 kilometer,” ungkap Huda kemarin (23/3).Faktanya, tiap operator harus menjaga kawasan sepanjang lima kali lipat dari batas ideal. Padahal, mereka harus memastikan kondisi fisik pintu air dan mengatur debit. Menurut Huda, idealnya Sleman butuh sekitar 400 orang operator penjaga saluran irigasi. Namun, pemkab hanya memiliki 40 tenaga honorer plus outsourcing.Jika kondisi itu dibiarkan, Huda khawatir saluran irigasi tak terawat. Seperti saluran di sepanjang Kecamatan Kalasan, yang banyak sampah rumah tangga. “Itu akibat minim pengawasan lantaran operator tak mungkin mampu menjangkau seluruh kawasan yang menjadi bebannya,” ucapnya.Huda mendesak pemerintah segera mengadakan penambahan tenaga operator penjaga saluran air pada 2014.Kepala Dinas Sumber Daya Alam Air, Energi, dan Mineral (SDAEM) Sapto Winarno membenarkan hal itu. Menurut Sapto, sebelum berlaku sistem moratorium pegawai, pemkab memiliki lebih dari 500 tenaga penjaga saluran irigasi. Mereka adalah tenaga honorer daerah. Setelah banyak yang pensiun, kini sisa tak lebih dari 90 orang operator.Sementara pemkab terkena larangan mengangkat pegawai honorer lagi. “Kami juga tak punya anggaran untuk itu (bayar penjaga). Tapi itu memang perlu,” ungkapnya kemarin (23/3).Solusinya, dinas hanya bisamengandalkan inisiatif organisasi petani pemakai air. Salah satu yang rumahnya dekat dengan saluran irigasi ditunjuk sebagai penjaga secara swadaya. Dalam hal itu, pemkab berperan memberikan pelatihan perencanaan secara partisipatif konstruksi dan pendanaan secara kelembagaan. “Pemberdayaan melalui kelompok,” katanya.(yog/din)