JOGJA – Dangdut yang merupakan salah satu musik asli Indonesia mampu direspons secara apik oleh sejumlah mahasiswa Universitas Atma Jaya Jogjakarta. Mereka secara khusus menggelar pameran foto bertajuk “Geliat Dangdut” di galeri Institut Français Indonesia (IFI) Jogjakarta.
Pameran foto karya Atmajaya Photography Club (APC) ini menyajikan musik dangdut dari pelaku, dan juga penikmatnya. Beberapa frame foto mampu mengabadikan kegiatan bermusik tidak hanya kelas panggung kecil. Tapi juga kafe, dan panggung besar.
“Kami ingin menghadirkan perspektif musik dangdut dari berbagai sisi. Selama ini dangdut dikenal sebagi musik rakyat bawah dan seronok. Padahal itu belum tentu benar,” kata Ketua Pameran Rikardus di sela pembukaan pameran yang berlangsung Senin malam (24/3).
Pameran berjalan selama dua hari hingga hari ini (26/3).
Salah satu frame yang cukup unik dihadirkan adalah musik dangdut yang bisa menyentuh sisi kerohanian. Frame ini terlihat dari salah satu foto essay yang menyajikan konser dangdut saat Natal tahun 2013. Musik ini dimainkan di Gereja Moro di Jombang, Jawa Timur.
Rikardus mengungkapkan , foto esai menceritakan bagaimana dangdut bisa masuk ke ranah rumah peribatan. Tidak hanya menghibur, namun juga memainkan peran dan fungsi sebagai lagu ibadah.
“Inilah tujuan dari pameran ini agar pandangan kita tidak tertutup oleh satu sisi saja. Bahkan dangdut sudah mengakar sejak dulu. Di masa lalu, dangdut kerap menyemarakan peringatan harirRaya umat beragama,” kata Rikardus.
Selain itu, pameran foto ini juga menyajikan pergesaran musik dangdut di Indonesia. Dangdut yang awalnya identik dengan kesederhanaan, bisa merambah ke dunia kafe. Bahkan pementasannya merambah ke layar televisi dengan format yang berbeda.
Ada pula format dangdut keliling dan dangdut sawer yang sudah menjadi rutinitas dalam kehidupan masyarakat. Untuk sawer sendiri, APC mengirimkan kelompok keTangerang untuk mengabadikan fenomena dangdut sawer tersebut. Dalam frame foto ini terlihat jelas dangdut sawer sudah menjadi budaya saat menyaksikan dangdut.
“Dangdut mengalami semacam evolusi karena mampu berkolaborasi dengan unsur lainnya. Kita juga mengikuti seorang elektone Hadi Soesanto g mampu mengemas dangdut secara menarik. Ilmunya sebagai seniman lukis diterapkan dalam konser-konser yang ia gelar,” kata Rikardus.
Pameran foto ini menyajikan dokumentasi music dangdut dari Oktober 2013 hingga Februari 2014. Untuk mengoptimalkan pameran, dibagi menjadi enam kelompok dengan tema yang berbeda-beda. Keenam tema inipu menyajikan sudut pandang musik dangdut yang berlainan.
“Untuk penyajian kami tidak hanya menyertakan caption saja, namun juga ada esai. Tujuannya saat melihat foto bisa dideskprisikan melalui tulisan saat melakukan wawancara dengan pelaku dan penikmat dangdut ,” kata Rikradus. (dwi/din)