MESKI memasuki usia lanjut, Indro yang memiliki nama lengkap Drs H Indrojoyo Kusumonegoro (56), masih terlihat energik dan antusias saat beberapa orang mengajaknya mengobrol. Sesekali tawa lepasnya terdengar ketika ada hal yang dirasa sangat lucu. Bahkan celotehan-celotehan komedinya masih mampu membuat perut terasa kram.
Mengenakan topi bertuliskan black angels, kaos hitam, dan celana jins Indro terlihat masih gagah. Minggu siang (23/3) itu, Indro hadir di Zodiak Hotel, Jalan HOS Cokroaminoto Jogjakarta bukan sebagai komedian. Kali ini dia didapuk sebagai sesepuh dari Harley-Davidson Club Indonesia (HDCI) Jogjakarta untuk memberikan wejangan.
“Tua itu cuma angka dan usianya saja, tapi jiwa masih kayak anak muda. Enggak kalah sama generasi sekarang, tetap setia jadi biker sejati,” kata Indro disambut tawa teman-temannya sesame biker.
Kedatangan Indro ke Jogjakarta bertepatan dengan persiapan penyelenggaraan Jogja Bike Rendezvous 2014. Sebagai sesepuh sekaligus pendiri HDCI, sudah menjadi kewajibannya untuk meluangkan waktu hadir di acara seremonial tahunan ini. Tidak hanya hadir, pria kelahiran Purbalingga, 5 Mei 1958 itu tak segan berbagi cerita dan pengalaman kepada para penggemar Harley-Davidson.
Mengawali cerita, Indro menceritakan sejarah dirinya bisa terjun dalam dunia moge. Ihwal kecintaannya terhadap moge bermula dari ayahnya yang juga seorang pecinta moge. Like father, like son, hobi ayahnya itu juga menular ke Indro sampai dia berobsesi memiliki moge sendiri.
Impian Indro memiliki moge terwujud saat usianya 18 tahun. Moge pertamanya ini didapat dari hasil menguras keringat dan upahnya dalam melakoni pekerjaan pada waktu itu. Moge ini pun selalu dibawanya dengan hati-hati karena hasil berjibaku yang cukup lama.
“Saya ingat waktu itu bapak saya itu seorang polisi dan penggemar moge. Bahkan beliau juga dekat dengan bawahannya yaitu Hoegeng Imam Santoso (mantan Kapolri). Bedanya ayah saya main moge, Hoegeng main sepeda biasa,” kenang Indro.
Cerita pun berlanjut tentang sejarah diadakannya Jogja Bike Rendesvouz (JBR) yang rutin digelar setiap tahun. Memasuki tahun kesembilan penyelenggaraan, JBR, menurut Indro memiliki peran besar terhadap biker-biker di Jogjakarta. Bahkan, acara tersebut saat ini sudah menjadi milik umum, tidak hanya pengendara moge.
Bagi Indro, JBR merupakan sebuah acara motor yang kompleks dan kaya. Tidak hanya menjadi ajang pamer moge, tetapi juga memiliki kegiatan lain. Indro mencontohkan menjadi ajang pariwisata Jogjakarta, berkumpulnya para pecinta otomotif bahkan juga wujud dari pelestarian seni dan budaya.
“JBR itu acara besar yang selalu dinanti karena isinya tidak melulu motor. Ada kesenian tradisional yang turut tampil, lalu potensi kekayaan tradisi lainnya yang mengisi stan-stan yang disediakan. Bahkan mampu menjadi magnet wisata khususnya bagi pariwisata di Jogjakarta,” kata Indro.
Lebih lanjut Indro menjelaskan, Jogjakarta memiliki nilai spesial bagi para pecinta moge. Selain keistimewaan warga, seni dan budaya, iklim berkendara di Jogjakarta bisa dibilang masih sangat nyaman. Indro memiliki impian hal ini bisa menjadi patokan bagi daerah lain dalam berkendara.
Tepo slironya masih tinggi, tidak arogan, dan masih tahu tatanan dalam berkendara di jalan raya. Kalaupun ada yang rusuh itu hanya oknum, namun secara rata-rata tingkat kesadaran etika berkendaranya masih tinggi,” kata Indro.
Sebagai seorang pengendara moge, Indro mengajak rekan-rekannya untuk tidak egois. Ini yang kerap ditemuinya dalam berkendara di jalan raya. Merasa memiliki kapasitas mesin yang besar, arogansi pun kerap muncul di diri biker. Melihat hal ini, Indro tak segan untuk menegur rekan-rekannya.
Indro tidak menampik mengendarai moge meningkatkan aliran adrenalin. Semakin cepat melaju, adrenalin semakin terpompa untuk menambah kecepatan dalam berkendara. Di sinilah menurut Indro pentingnya sebuah safety riding bagi setiap pengendara. Keselamatan ini tak hanya untuk diri sendiri, namun juga pengendara lainnya.
“Disini kita mesti mengenal yang namanya safety riding karena meng-handle motor ini kan enggak gampang. Harus konsentrasi yang tinggi. Udah gitu, motor Harley-Davidson ini enggak bisa dibawa pelan. Itu juga salah satunya yang menjadi kenikmatan tersendiri,” terangnya.
Menjadi sesepuh moge Indro pun mengenal beberapa klasifikasi jenis-jenis klub motor. Pertama adalah klub motor yang berbasiskan marketing tools, klub ini berorientasi pada penjualan dan penyediaan moge dan sparepart. Kedua adalah klub hobi seperti HDCI, dan yang terakhir adalah jenis Motorcycle Club atau M.C.
Untuk yang terakhir ini Indro secara spesifik menjelaskan sejarah berdirinya. M.C., adalah klub motor yang berdiri atas basis budaya. Di Amerika sendiri klub motor yang berbasi M.C. sangat ditakuti karena arogansi dan perangainya sangat keras.
Indonesia, menurut Indro, sebenarnya juga memiliki M.C. seperti Brotherhood dan Black Angels. Meski begitu klub ini berbeda karena budaya di Indonesia mampu mengubah mindset klub ini. M.C. di Indonesia sangat mengedepankan persaudaraan dan juga kedamaian.
“Kalau di Amerika berbasis gangster karena awal terbentuknya saat ada budaya perang dan budaya keras. Tiga misi dalam M.C. itu adalah perdagangan senjata, wanita, hingga berdagang narkoba. Dulu pernah ada yang masuk ke Indonesia, tapi saya sudah memberikan informasi intel polisi untuk mengawasi,” kata Indro.
Sebagai sesepuh moge, Indro berharap penggawa moge lainnya mampu berperilaku sopan sesuai adat ketimuran. Dia berharap agar HDCI tidak bertingkah eksklusif di mana meminta porsi istimewa dalam berkendara.
Mematuhi tata aturan yang sudah diterapkan oleh polisi pun wajib bagi semua pemilik moge tidak terkecuali. Tujuannya, selain menjaga keselamatan juga menjaga kesenjangan tentang hak istimewa dalam berkendara. Apalagi, dia melihat karakter jalan raya di Indonesia yang bukan jalan besar seperti di luar negeri.
“Kita harus jaga disiplin kita dalam berkendara, bahkan di Jogjakarta kita mendapat pengakuan istimewa. Raja Jogjakarta Sri Sultan Hamengko Buwono X pun memercayakan kita sebagai honorary ambassador of tourism atau duta pariwisata di Jogkakarta. Bentuk-bentuk kepercayaan inilah yang harus kita jaga, salah satunya dengan norma saat berkendara,” pesan Indro. (*/abd)