INOVASI : Produk kopi salak yang diproduksi warga Donokerto, Turi. Supriyono sebagai penggerak usaha ini.

Wedang Kenthos, Inovasi Produk Minuman Lereng Merapi
Disebut kopi tapi tak mengandung unsur kopi. Hanya wujudnya mirip dengan bubuk kopi. Rasanya sedikit pahit. Jika ditambah gula, bisa menjadi aneka rasa, tergantung lidah masing-masing pencicip.
YOGI ISTI PUJIAJI, Turi
KONON, ramuan berbahan baku biji salak pondoh (kenthos) ini memiliki khasiat seperti jamu herbal. Khususnya untuk meredakan asam urat dan darah tinggi. Banyak warga Donokerto, Turi yang membuktikannya. Meskipun begitu, ramuan itu memang belum pernah diuji secara medis.Sebagai bahan wedang, bubuk biji salak justru menjadi inovasi di kawasan Lereng Merapi. Yakni, dengan memanfaatkan limbah salak yang menjadi komoditi utama masyarakat Turi.Adalah Supriyono 60, sesepuh asal Dusun Donoasih, Donokerto yang menjadi penggerak industri kecil. Ide membuat kopi biji salak datang dari putra Supriyono, yang memperoleh informasi tentang manfaat kenthos dari internet.Nah, berawal dari itu, Supriyono menganggap sebagai sebuah peluang. Itu mengingat sebagian besar masyarakat Turi bekerja di kebun salak. Selain dijual utuh, sebagian salak disulap menjadi makanan olahan kemasan. Di antaranya, jenang salak atau dodol salak.Produksi makanan olahan hanya mengambil dagingnya, bijinya pun menjadi limbah. Kenthos yang dulunya dibuang, kini dimanfaatkan sebagai bahan baku mimunam. “Kenapa tak dicoba saja. Ternyata hasilnya bagus,” ujar Supriyono kemarin (25/3).Supriyono menyebut produk itu sebagai kopi biji salak karena bentuknya yang mirip kopi. Tapi, jelas itu bukanlah kopi pada umumnya yang mengandung kafein. Hanya wujudnya yang seperti bubuk kopi.Proses pembuatannya tak rumit. Mula-mula, kenthos dicuci bersih dan dipotong menjadi empat bagian. Lalu digoreng sangan (digongso) tanpa minyak. Proses penggorengan sekitar dua jam asal tak sampai gosong. Kemudian, kenthos diambil dan ditumbuk sampai lembut. Lalu disaring menggunakan ayakan hingga menjadi bubuk. Sebelum dikemas, bubuk dimasukkan dalam plastik sampai dingin. Sederhana bukan. Itulah kopi bubuk biji salak.Produk olahan ibu-ibu Donoasih itu sudah dikirim ke kota-kota besar, bahkan hingga luar Jawa. Namun, Suprioyono mengaku tak berani menjual produk secara bebas karena belum mengantongi izin dari dinas kesehatan setempat. “Izin sedang kami proses,” ujarnya.Produk kemasan satu kilogram dijual seharga Rp 80 ribu dan per ons Rp 10 ribu. Untuk 1 ons bubuk diperlukan bahan baku kurang lebih satu kilogram biji salak pondoh.Beberapa tamu yang sempat mencicipi minuman olahan itu merasa ada keunikan pada biji salak. “Seperti ada aroma nangkanya. Mungkin karena terlalu banyak gula,” ujar Wasiyo, pengunjung asal Ngaglik.Bagi Wasiyo, minuman itu tetaplah bukan kopi sesungguhnya. Tapi semacam wedang biji salak (kenthos) sebagai alternatif pengganti kopi. ***
Izin Masih Proses, Belum Berani Menjual Bebas