SLEMAN – Suara knalpot blombongan, pentas dangdut, dan hujan atribut merah mewarnai kampanye rapat umum terbuka Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Lapangan Denggung, Tridadi, Sleman kemarin (25/3).
Partai berlambang banteng moncong putih menghadirkan sejumlah tokoh dari pusat sebagai juru kampanye nasional. Di antaranya Ketua Umum Megawati Soekarnoputeri, Puan Maharani, Sidarto Danusubroto, dan Ketua DPD PDIP DIJ Idham Samawi.
Iring-iringan sepeda motor memadati jalan-jalan protokol menuju lapangan, hingga rombongan Megawati hadir di panggung. Raungan suara knalpot seakan tak mau kalah dengan para tokoh yang berorasi di atas panggung.
Idham Samawi mendahului orasi dengan mengajak massa bersama-sama memenangkan pemilu untuk PDIP dengan target 35 persen perolehan suara nasional. Idham mengklaim, saat ini bangsa Indonesia sedang salah jalan sehingga menimbulkan keprihatinan. Karena itu, dia mengajak massa PDIP untuk merebut kekuasaan secara konstitusional.
“Ukurannya, kita harus mampu berdikari di bidang politik, pemerintahan, dan sosial kebudayaan,” ungkap Idham, yang juga meminta massa mencoblos Sidarto Danusubroto sebagai calon DPD RI pada pemilu 9 April.
Ketua DPP PDIP bidang Politik dan Hubungan Antar-Lembaga Puan Maharani menyusul sebagai orator setelah Idham. Puan lebih menekankan bahwa PDIP harus bisa meraih suara di atas 20 persen agar bisa mencalonkan presiden sendiri.
Puan juga membacakan tiga butir perintah harian dari Megawati bagi seluruh kader PDIP di Indonesia. Yakni, mendukung Joko Widodo menjadi calon presiden Indonesia, menjaga dan mengamankan pemilu di tempat pemungutan suara, serta mengawal proses penghitungan suara dari kemungkinan tindak kecurangan dan intimidasi dari kalangan tertentu, dan meneguhkan hati mengawal demokrasi Indonesia.
“Saya yakin yang kumpul di sini adalah anak ideologis Bung Karno. Bukan mau kumpul karena dipaksa dan dibayar,” tegas Puan.
Pada gilirannya, Megawati menegaskan bahwa Indonesia harus dipimpin oleh presiden yang bisa menjadi panutan bangsa. Karena itulah dia menunjuk Joko Widodo, meski yang bersangkutan saat ini masih resmi menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta.
Presiden ke-5 RI itu lantas membeber alasannya memilih mantan wali kota Solo itu sebagai calon presiden. “Kenapa saya menyatakan beliau menjadi capres? Sebab saya melihat sebuah keadaan di republik ini harus jadi lebih baik dari waktu ke waktu,” ujar tokoh perempuan nasional yang akrab disapa Mbak Mega.
Puteri mendiang Presiden Pertama RI Soekarno itu melihat banyak kalangan muda, sekitar 60 juta orang, di seluruh wilayah Indonesia yang berpelung untuk menggunakan hati mereka untuk memenangkan PDIP. “Oleh sebab itulah kenapa Pak Joko WIdodo saya calonkan. Karena itu saudara harus memberikan dukungan yang kuat kepada beliau,” pinta Mega.
Kendati begitu, Megawati mengingatkan konstituen dan simpatisan PDIP agar tak terlena dengan pencapresan Joko Widodo. Menurut Mega, masih banyak orang atau pihak-pihak yang ingin menjegal langkah Jokowi dengan membuat muslihat agar PDIP tak bisa memperoleh suara minimal 20 persen. “Banyak yang tak suka PDIP jadi pemenang. Karena itu saya sangat butuh dukungan itu,” katanya.
Megawati mengatakan bahwa suara rakyat adalah hak masing-masing individu. Bukan atas pengaruh pemerintah atau siapa pun. Mega juga mengingatkan agar masyarakat tak menjadi golput. Megawati berharap kaum muda tak hanya bersenang-senang, tapi turut menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang hebat dan kaya melalui kerja keras.
Megawati menegaskan, demokrasi harus dijalankan secara fair dan adil. Tidak menggunakan kekuasaan. “Saya pun bisa gunakan kekuasaan saat jadi presiden. Tapi tidak saya lakukan karena sadar masyarakat punya hak yang harus dihormati, bukan dipaksa,” katanya.
Di akhir orasi, Megawati mendorong massa agar tak menjadi bangsa kuli di negeri sendiri.
Jokowi urung hadir sebagai jurkam lantaran sedang bertugas di Jakarta. Menurut Megawati, Jokowi hanya bisa kampanye pada Sabtu dan Minggu. (yog/abd)