PURWOREJO – Sejumlah seniman Purworejo mengaku resah dengan kebijakan sewa gedung Kesenian Sarwo Edi Wibowo Purworejo yang dinilai mahal. Mereka meminta pemkab merevisi aturan sewa yang memberatkan pelaku seni dan budaya di Purworejo.
Praktisi Teater Purworejo Haryanto Dje mengatakan, jika kebijakan itu dilanjutkan, kreativitas seniman Purworejo akan terbunuh.
“Kalau setiap pementasan di dalam gedung harus membayar uang sewa gedung segitu mahal, mending namanya diganti jangan ada embel-embel kesenian,” kritik Dje, kemarin (25/3).
Menurut Dje, selama ini para seniman berkesenian tanpa ada subsidi dari pemerintah. Jika penggunaan gedung kesenian juga sewa, kreativitas para seniman di Purworejo secara tidak langsung dibunuh pelan-pelan.
“Bukannya gedung kesenian merupakan media untuk berekspresi bagi seluruh masyarakat Purworejo. Siapapun yang memiliki karya berhak menampilkan karyanya dalam gedung itu tanpa dipungut biaya,” ujarnya.
Ia berharap, pemkab mau peduli dengan kenyataan itu. Selanjutnya, merevisi perda sewa gedung itu. Karenanya, ia berharap para pemimpin di Purworejo bisa menghargai seni dan karya.
“Masyarakat yang ingin menampilkan karya jangan dipersulit. Sejak didirikan gedung kesenian adalah ruang apresiasi karya dan tidak pas untuk dikomersilkan,” harapnya.
Ditegaskan Dje, beberapa waktu yang lalu sempat terjadi insiden memalukan. Tepatnya saat kelompok teater Unstrad dari Universitas Negeri Jogyakarta (UNJ) bekerja sama dengan kelompok teater Surya Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) menggelar pementasan teater di gedung kesenian Purworejo.
“Waktu itu, panitia penyelenggara dituntut membayar sewa gedung Rp 750 ribu. Kasihan mereka, modal pementasan mereka swadaya masih diperberat kewajiban membayar sewa gedung yang cukup mahal,” katanya.
Kritikan Dje tidak berhenti di situ. Ia juga mengkritik pengelolaan gedung yang tidak profesional. Ini bisa dilihat dari beberapa sudut bangunan yang kotor. Bahkan, bagian langit-langit gedung senilai Rp 3 miliar lebih tersebut sudah berlubang.
“Gedung kesenian ini juga dibolehkan untuk kegiatan resepsi pengantin. Kalau begitu, sebetulnya gedung kesenian atau gedung resepsi. Kalau terus dilanggengkan, jelas akan semakin jauh dari fungsi gedung itu sendiri,” katanya.(tom/hes)