JOGJA – Ini peringatan bagi calon legislatif (caleg) yang emosionalnya bisa cepat berubah dari senang menjadi susah atau sebaliknya. Jika mengalami hal tersebut, lebih baik segera mendatangi psikiater. Sebab, orang yang kerap mengalami perubahan emosional tersebut, jika mengalami kekecewaan, potensi untuk bunuh diri cukup besar.
“Orang yang mengalami perubahan emosional itu besar kemungkinannya mengalami gangguan biopolar. Penderita gangguan biopolar ini bisa mudah terpikir untuk bunuh diri,” tutur Prof Syamsul Hadi, guru besar psikiatri UNS Solo dalam seminar peduli gangguan biopolar di salah satu hotel di Jogja, kemarin.
Syamsul menjelaskan, caleg yang mengalami gangguan biopolar sangat rawan jika terpilih atau gagal. Jika caleg penderita gangguan biopolar ini terpilih, dia rentan memutuskan sesuatu yang bijak. Sebab, keputusannya bisa sarat emosional. “Kalau pas senang penderita gangguan biopolar bisa sangat senang. Kalau susah, bisa sangat susah,” kata Syamsul.
Dr Carla R Machira, psikolog dari UGM menambahkan, seharusnya tes untuk pejabat publik harus diperketat. Karena, hal tersebut sangat menentukan dalam pengambilan kebijakan nantinya. “Tes kejiwaan ini penting agar mereka yang menduduki jabatan kebijakannya benar-benar arif,” saran Carla.
Selain itu, caleg yang menderita gejala gangguan biopolar juga rawan menderita depresi. Bahkan jika caleg yang gagal tersebut sangat kecewa, dia bisa mencoba bunuh diri. “Kalau gagal, mereka ini bisa sangat kecewa, ” ingatnya.
Dengan pertimbangan dampak tersebut, Clara mengusulkan adanya tes kejiwaan yang benar-benar ketat bagi pejabat publik. Ini untuk mengantisipasi agar tak terjadi kebijakan yang kontraproduktif bagi masyarakat. Juga bagi diri mereka sendiri. “Penderita gangguan biopolar masih bisa disembuhkan dan normal kembali,” ujarnya.
Soal tes kejiwaan bagi caleg, menurut Komisioner KPU DIJ bidang Humas dan Pemilih Faried Bambang Siswantoro, dilaksanakan dengan standar tes kejiwaan. Itu mereka lakukan saat awal dahulu sebagai syarat pendaftatan caleg. “Kalau tesnya pasti sesuai standar dari rumah sakit,” katanya.
Hanya, meski telah menjalani tes standar, KPU tak berani memastikan jika caleg yang bertarung di Pemilu 2014 ini memiliki kejiwaan yang layak. “Kami hanya menjalankan sesuai regulasi bahwa caleg harus memenuhi persyaratan medis dengan hasil rekam medis uji tes kesehatan dari layanan kesehatan yang telah ditunjuk,” kata Faried.
Untuk tes kesehatan tersebut, KPU DIJ menunjuk RS Grhasia, Pakem, Sleman. Mereka yang melakukan uji kejiwaan terhadap caleg. Hasil uji kejiwaan itu menjadi salah satu syarat administratif sebelum ditetapkan ke dalam daftar caleg tetap.
Soal uji kejiwaan yang sudah dilakukan caleg, Syamsul hanya berharap tesnya benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Bukan hanya syarat formalitas. “Semoga saja, setelah pemilu dan mengalami depresi karena gagal, mereka datang ke psikiater. Bukan ke dukun,” kelakarnya. (eri/abd)