PURWOREJO – Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Purworejo berupaya membentuk bank sampah di tiap desa dan kelurahan. Langkah tersebut, untuk mengatasi permasalahan sampah yang belum banyak diolah masyarakat. Kesadaran masyarakat mengelola sampah dinilai masih rendah dan perlu diberikan pelatihan cara mendaur ulang secara masif.
Kepala KLH Purworejo Bambang Sugito mengungkapkan, pelatihan mendatangkan narasumber dari Jogjakarta. Pelatihan tersebut sebagai satu cara meletakkan embrio bank sampah di Purworejo.
“Harapannya, bank-bank sampah bisa terbentuk mandiri oleh masyarakat setelah adanya pelatihan ini. Apabila bank sampah sudah muncul, kami lebih mudah melakukan pembinaan,” ungkap Bambang, di sela acara pelatihan pengelolaan sampah di pendapa Kecamatan Purworejo, kemarin (26/3).
Bambang mengungkapkan, pelatihan pengelolaan sampah di Kecamatan Purworejo merupakan program pertama di 2014. Rencananya, tahun ini KLH akan mengadakan pelatihan serupa di empat kecamatan. Yakni Kecamatan Purworejo, Purwodadi, Pituruh, dan Grabag.
“Dasarnya, karena baru ada lima bank sampah. Yaitu, dua bank sampah di Kecamatan Purworejo, dua di Kecamatan Bayan, dan satu di Kecamatan Loano. Harapannya, ke depannya setiap desa bisa memiliki bank sampah agar pengelolaan sampah bisa tertata baik,” paparnya.
Menurut Bambang, pembentukan bank sampah cukup mendesak. Karena, kesadaran masyarakat mengelola sampah masih minim. Sedangkan sebagian besar wilayah berupa pedesaan yang membuat pola pikir masyarakat terhadap sampah masih tradisional.
Ia mencontohkan kebiasaan masyarakat desa yang gemar menimbun atau membakar sampah untuk pupuk. Padahal, sampah yang diperlakukan bukan hanya sampah organik melainkan sampah plastik dan sejenisnya tentu tak bisa diserap tanah.
“Mereka masih menginginkan cara yang instan. Padahal cara seperti itu bisa berbahaya dan berpotensi menimbulkan masalah pada kesehatan. Kami terus berupaya melakukan sosialisasi UU Sampah, yaitu UU Nomor 8 Tahun 2008. Namun, efek jera dari sanksinya nyaris tidak ada. Ini berbeda dengan apa yang ada di Singapura, di mana persoalan sampah dianggap serius,” katanya.(tom/hes)