Siapa sangka krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1997 justeru membangkitkan upaya tetap bertahan hidup. Itulah yang dialami Ahmad Sa’dun, 50, warga Pepen, Giripeni, Wates, Kulonprogo. Sejak krisis itu dia memberanikan diri berwirausaha mengembangkan kerajinan mebeler berbahan ranting pohon jati.
ALI MUFID, Wates
KEINGINAN Ahmad yang kuat serta tanggung jawab terhadap keluarga, Sa’dun yang awalnya memiliki usaha ternak bebek itu harus berputar otak ketika krisis ekonomi melanda. Usaha yang digelutinya mengalami kemunduran. Sauki, rekan seperjuangannya, mengenalkan Ahmad dengan salah satu pengusaha mebeler di Kota Jogja, Titon Craft. Dari situlah Sa’dun bertekad merambah keahlian tersebut.
“Saya dikenalkan ke salah satu pengusaha mebeler, untuk mengembangkan usaha kerajinan,” kata Sa’dun kepada Radar Jogja, kemarin (26/3).
Perlahan, dia mulai mengembangkan kerajinan mebeler berbahan dasar ranting pohon jati. Pasang surut pun tak lepas dari usaha yang dibangun ayah tiga anak ini. Awalnya dia mengalami kesulitan pada ketersediaan peralatan, jumlah pekerja, serta belum menguasai pembuatan mebeler. Waktu demi waktu, dia dibantu beberapa temannya kemudian megatasi persoalan tersebut.
Saat dia membangun usaha, Sa’dun bermodalkan Rp 2 juta. Uang itu hasil pinjaman dari salah seorang pengusaha mebeler yang memberi kepercayaan penuh terhadapnya. Modal itulah yang kemudian dikembangkan hingga dia bisa membuat berbagai jenis kerajinan, seperti rak, kursi, meja, dan sebagainya.
“Kalau saya menipu bagaimana? Kan kami baru saja kenal,” kata Sa’dun mengenang berbincangannya dengan salah seorang pengusaha mebeler itu.
Dari situlah usaha Sa’dun mulai berkembang. Dibantu 10 orang karyawan, rata-rata dalam seminggu Sa’dun bisa meraup omzet Rp 4 juta. Sebulan, usaha Sa’dun bisa beromzet Rp 20 juta. Hasil itu merupakan penjualan kerajinan ke Titon Craft. Lalu kerajinan itu dikirim ke beberapa negara.
Lelaki kelahiran Jogja 5 Mei 1964 itu mengaku untuk mendapatkan bahan dasar kerajinan berupa ranting pohon jati tidak sulit. Dia bisa mengambil ranting dari pohon jati yang dibeli beberapa relasinya. Daripada ranting hanya digunakan sebagai kayu bakar, dia memanfaatkannya agar memiliki daya jual tinggi. Untuk ranting pohon, Sa’dun bisa mendapatkan di beberapa daerah di Kulonprogo.
“Kalau cuma dipakai kayu bakar, nggak ada nilai jualnya. Makanya saya manfaatkan sebagai bahan dasar kerajinan,” kata Sa’dun.
Untuk proses pembuatannya, ranting pohon jati terlebih dulu diambil kulitnya. Kemudian setelah itu baru diamplas agar ranting bisa halus. Lalu ranting itu mulai dipotong sesuai kebutuhan kerajinan yang akan dibuat. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan kerajinan, waktunya berbeda-beda, tergantung dari tingkat kesulitannya.
“Kalau produksi kursi ya paling dua hari sudah finishing,” kata suami Umi Marfu’ah.
Sa’dun menyatakan produksi mebeler dari ranting pohon jati, selain memiliki bahan dasar yang kuat, hasil kerajinan juga tidak mudah terserang rayap atau mudah rapuh. Dalam pembuatannya, dia memperhatikan tahap per tahap agar produksi kerajinan bisa awet, termasuk mengolesnya dengan obat.
Meski hasil kerajinannya distok ke Titon Craft, Sa’dun tetap melayani jika ada yang membeli langsung di rumahnya. Per item kerajinannya dipatok harga beragam, dari Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu. Untuk meja satu set biasa Sa’dun jual dengan harga Rp 1,8 juta.
Terang saja, dengan kepercayaan kuat dan tanggung jawab tinggi, Sa’dun yang member nama usaha kerajinannya Payu Art itu bisa membiayai tiga anaknya yang saat ini menempuh pendidikan di perguruan tinggi. “Payu Art itu kalau saya mengartikan, Pasrah Allah Yang Utama,” kata Sa’dun. (*/iwa)