PURWOREJO – Pascakebakaran Pasar Induk Baledono Purworejo, omzet pendapatan pedagang mengalami penurunan drastis. Banyak pedagang yang kesulitan keuangan, karena pendapatan turun. Bahkan, di antara mereka yang memiliki anak-anak sekolah dititipkan saudaranya.
“Pendapatan para pedagang turun drastis. Banyak yang tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka,” kata Ketua Paguyuban Pasar (Pappas) Baledono, H. Sumedi, kemarin (26/3).
Sumedi mengungkapkan, penempatan pedagang di lokasi pasar darurat belum bisa mendongkrak pendapatan. Terlebih, penempatan pedagang ini berada pada lokasi terpisah, sehingga pembeli tidak fokus belanja sejumlah kebutuhan dalam satu titik.
“Kalau pasar darurat itu terpusat di satu titik, masyarakat yang belanja bisa fokus di satu lokasi. Kenyataannya, mereka terpencar hingga banyak pedagang yang mengaku kehilangan pelanggan,” ungkapnya.
Seperti yang akan ditentukan pemkab, lokasi pasar darurat ada di lima titik. Di antaranya, di belakang kompleks plaza, Terminal Angkudes Kongsi, Jalan Pramuka, Jalan Pahlawan, dan Sub Terminal Suronegaran.
“Di Terminal Suronegaran meski berbaur dengan pedagang Pasar Suronegara, tetap para korban Baledono belum bisa mendongkrak omzet pendapatannya. Terlebih pasar itu hanya ramai di pagi hari. Memang, dari dulu sebagai tempat bongkar muat komoditas perdagangan saja,” paparnya.
Sumedi menambahkan, sebagian pedagang banyak mencari terobosan, yakni dengan menjajakan barang dagangannya di tempat lain. Ada yang bergabung dengan pedagang di Jalan Pahlawan. Sebagian lagi kembali ke Jalan Jend Achmad Yani (A Yani), depan Pasar Baledono.
“Mereka tidak membangun lapak, melainkan temporer buka pagi hingga siang sore tutup,” imbuhnya.
Di antara pedagang juga mendasarkan dagangannya dengan mobil bak terbuka. Sehingga bisa pindah kapan saja. Prinsipnya, para pedagang sudah mulai mencari terobosan agar dagangannya tetab laku.(tom/hes)