Puluhan peserta terlihat antusias mengikuti pelatihan yang digelar di Kantor Kecamatan Gondokusuman ini. Selama tiga hari hingga 24 Maret lalu, anggota PKK ini mengikuti pelatihan. Dengan antusias mereka mengikutinya. Meskipun mayoritas baru pertama kali bersentuhan dengan pembuatan tutup kepala khas Jawa ini.
Bagi kebanyakan peserta, waktu tiga hari ternyata dianggap kurang. Itu karena rumitnya pembuatan kerajinan ini, sehingga memang butuh ketelitian dan ketelatenan. “Angel tenan, tapi memang menantang,” kata seorang peserta sambil melipat wiru atau lipatan blangkon dari kanan ke kiri.
Ibu Sutikno, 49 salah seorang peserta tahun mengaku kegiatan tersebut memiliki manfaat besar. Alasannya, selain membuka usaha jahit di rumah, dia ingin menambah ketrampilan lain dengan mengikuti pelatihan ini. “Ini tadi saya dari jam 09.00 pagi sampai 14.00 WIB siang baru 50 persen jadi bahkan ada yang baru 20 persen jalan. Angel tenan mas. Sampai kaki keju,” tambahnya.
Pada hari pertama, peserta hanya mendapatkan pelatihan berupa teori. Pada hari kedua, dan ketiga peserta langsung melakukan praktik membuat blangkon. Pelatihan ini digelar gratis. Bahkan untuk peralatan dan bahan semuanya disediakan pemkot.
Sayangnya, karena dianggap rumit, pelatihan ini justru banyak membuat blangkon khas Solo. Sebagian besar peserta mengakui membuat blangkon khas Jogja lebih sulit dibanding khas Solo atau Jawa Timur. “Jadi dasarnya kami disuruh membuat blangkon khas Solo dulu kalau sudah pandai baru mudah saat membuat blangkon khas Jogja,”ungkapnya.
Salah satu pengajar Wagimin Darmo yang juga pengrajin asal Bugisan Kota Jogja mengakui keluhan dari para peserta pelatihan membuat blangkon umumnya saat melakukan teknik melipat wiru.
“Memang jlimet ya, bagi pemula saat sudah memasuki tingkat wiru atau lipatan blangkon,”jelasnya.
Pria yang akrab disapa Pak Darmo tersebut sudah menekuni kerajinan blangkon sejak 38 tahun silam secara otodidak.(*/din)