MUNGKID – Berbagai elemen masyarakat meminta permasalahan polusi udara yang ditimbulkan pabrik kayu di Kecamatan Tempuran segera dicari solusinya. Masyarakat mendesakPT Surya Jawa Albasia merespons keluhan masyarakat, terkait dampak yang ditimbulkan dari produski kayu tersebut.
Tokoh Masyarakat Desa Sidoagung, Kecamatan Tempuran, Ahmad Fatkhan menyatakan, dampak produksi kayu udara di sekitar desanya menjadi tercemar. Ia mengaku saat melakukan kegiatan sehari-hari, harus menggunakan masker. Karena polusi udara yang ditimbulkan dari produksi kayu seperti asap dan serbuk mengganggu pernafasan.
Tidak hanya itu, pohon di sekitar rumah juga mati karena terkena polusi.
“Kami minta segera diperbaiki sistem produksi dari perusahaan,” pinta Ahmad, saat musyawarah terkait polusi udara di kantor Kecamatan Tempuran, kemarin (26/3).
Selain tokoh masyarakat, pertemuan tersebut dhadiri beberapa kepala dusun (kadus), kepala desa (kades), perwakilan perusahaan, dan Muspika Tempuran.
Ahmad meminta perusahaan merespons keluhan dari masyarakat. ia juga mempertanyakan, keberlangsungan kesehatan warga yang tinggal di sekitar pabrik.
“Kami ingin hidup sehat. Lalu, bagaimana langkah dari perusahaan,” imbuhnya.
Kades Sidoagung Suparno menyayangkan sikap perusahaan yang terkesan diam atas keluhan warga. Suparno menjelaskan, selama ini warga sudah menyampaikan keluhan secara lisan. Namun, dari perusahaan tidak ada tanggapan.
“Kalau kita tetangga, apakah harus bersurat (dalam menyampaikan keluhan, Red). Itu kan memakan waktu yang lama. Kami merasa tetangga, jadi tidak membuat surat dalam menyampaikan keluhan,” jelasnya.
Suparno meminta perusahaan memberi solusi yang tepat. Karena polusi yang ditimbulkan cukup mengkhawatirkan. Bahkan, sebagian warga terindikasi terkena penyakit ISPA, pusing, dan lainnya.
“Kami minta segera ada solusi. Bukan berarti kami menuntut pabrik ditutup,” katanya.
Selain warga, polusi udara dan polusi kebisingan juga dikeluhkan pihak SDN 3 Sidoagung yang berlokasi tak jauh dari pabrik. Para siswa di sekolah tersebut sering terkena dampak langsung. Yakni, polusi udara berupa asap dan serbuk yang berterbangan sekitar pukul 11.00.
“Tidak mesti waktunya, tetapi yang pasti adanya polusi pabrik mengganggu siswa,” kata Kepala SDN 3 Sidoagung, Tutik Muryani.
Ia meminta harus ada solusi. “Kami tidak menuntut pabrik ditutup. Karena dampak positifnya bagi masyarakat juga ada. Kami hanya menuntut kesehatan siswa saat kegiatan belajar mengajar tidak terganggu. Khususnya tidak mengganggu pernafasan. Kalau suara bising yang ditimbulkan mesin, bisa sedikit diatasi,” jelasnya.
Camat Tempuran Darmono meminta pabrik menentukan waktu masalah ini dapat diatasi. Ia meminta pascamusayawarah segera diselesaikan permasalahannya.
“Yang pasti tenggang waktunya harus jelas. Jangan sampai lama. Memang Tempuran termasuk kawasan industri di kabupaten. Tetapi tatanan aturan di masyarakat juga harus dipatuhi,” imbuhnya.
Direktur PT Surya Jawa Albasia Stefanus Budi Sanjaya mengakui, produksi sebuah perusahaan tak bisa lepas dari limbah yang ditimbulkan. Ini juga terjadi di perusahaan lain selain di Tempuran. Untuk itu, ia akan mengkaji dulu kepastian limbah di lingkungan Desa Sidoagung. “Yang jelas, kami butuh waktu,” katanya.
Stefanus meminta kearifan masyarakat. Karena adanya perusahaan juga memberi dampak positif. Menurutnya, pada perusahaan tersebut setiap enam bulan ada uji emisi dan uji laboratorium.(ady/hes)