Mengenal Owner Rumah Makan Pelem Golek Thomas Agus Soegiarto
Bagi Dirut Rumah Makan Pelem Golek Thomas Agus Soegiarto, berbisnis tidak hanya sekadar tentang rugi dan laba. Lewat bisnis kuliner dia juga ingin mengedukasi konsumen dengan gerakan budaya mengonsumsi ikan.
DWI AGUS, Sleman
Sosok Agus masih terlihat segar di usianya ke- 64 tahun. Senyumnya sering mengembang saat menemui konsumen maupun relasi yang datang ke Rumah Makan Pelem Golek di jalan Palagan Tentara Pelajar, Sleman.
Sapaan ramah pun selalu terlontar dari Thomas Agus Soegiarto yang akrab dipanggil Agus ini.
Meski memiliki jabatan sebagai direktur utama, namun Agus tak segan berbaur denagn karyawannya untuk menyapa pelanggannya. Ini menurutnya untuk menjalin kedekatan dengan pelanggannya.
“Melakoni usaha seperti ini (kuliner) itu tidak hanya tentang bisnis semata. Harus menjalin kedekatan, kenyamanan seperti teman bahkan sahabat. Apalagi jika bicara kuliner adalah mengenai cita rasa yang terkait kepuasan masing-masing pelanggan,” kata pria kelahiran Semarang, 26 Februari 1950 ini.
Agus menceritakan pergulatannya dalam dunia kuliner khususnya ikan memiliki misi tersendiri. Baginya ikan adalah sebuah tingkat konsumsi yang sangat penting. Sayangnya di Jogjakarta sendiri tingkat kesadaran dalam mengonsumsi ikan masih rendah.
Dari sejumlah penelitian yang dia baca, mengonsumsi ikan sangat penting. Mengonsumsi ikan akan berpengaruh besar dalam meningkatkan kecerdasan seseorang. “Contohnya orang Jepang. Mereka sadar bahwa ikan merupakan salah satu sumber makanan yang mengandung asam lemak tak jenuh omega 3,” terangnya.
“Omega 3 ini mampu meningkatkan kecerdasan hingga di atas rata-rata. Selain itu kita juga sering melihat bahwa warga disana tetap sehat dan memiliki gairah hidup tinggi. Bahkan usianya ada yang diatas 100 tahun,” tambah Agus.
Agus pun memaparkan beberapa artikel yang sempat dia baca bahwa tingkat konsumsi ikan di Jepang rata-rata 60 kilogram per orang per tahun. Sedangkan di Indonesia sendiri dalam keseharian hanya mengonsumsi ikan di bawah 30 kilogram per orang per tahun.
“Itulah mengapa untuk perihal ikan sangat gencar sekali untuk mengedukasi,” tambahnya. Untuk hal ini dia punya slogan khusus yaitu, Gemar Makan Ikan Nyook..! Sehat, Kuat, Cerdas. Tagline inipun terpampang di pendopo depan sebagai kampanye ajakan memakan ikan.
Restoran yang khusus menyajikan menu ikan ini didirkan Agus pertengahan 2008. Selain menyajikan menu, dalam papan-papan yang mengitari pendopo Agus pun menyertakan kandungan gizi dari setiap ikan dalam menunya. Kandungan gizi ini memaparkan berapa presentase kandungan dalam setiap ikan tawar dan laut yang disajikannya.
Hal ini dilakukan agar setiap pelanggan yang datang tidak hanya kenyang perut namun juga kenyang pengetahuan. Selain menyajikan ikan, Agus mendampingi kuliner sehatnya ini dengan bahan-bahan organik. Ini mulai dari pemilihan beras hingga sayur yang digunakan sebagai penyanding menu utama.
Sayur organik ini adalah bahan baku terpilih dan tidak ada unsur obat kimiawi dalam penanamannya. Tentunya pemilihan organic ini untuk mengimbangi menu ikan yang disajikan olehnya. Sehat dan alami menjadi alas an Agus memilih menyajikan menu-menu yang sangat baik bagi tubuh manusia ini.
“Menyajikan apa yang disajikan oleh alam secara alami, tentunya agar sadar bahwa manusia itu harus mengkonsumsi yang baik untuk tubuh,” terangnya. Manurutnya, mungkin efek dari makanan yang tidak alami tidak langsung, tapi kita menabung untuk kesehatan. Dan kesehatan itu adalah inventaris untuk kehidupan manusia.
Agus mengakui tahun pertama berdirinya restoran miliknya tingkat konsumsi ikan masih rendah. Baru setelah memasuki tahun kedua,ketiga hingga sekarang tingkat konsumsi terus meningkat. Dalam melakoni usahanya ini Agus pun memiliki cerita yang sangat panjang.
Sebelum mendirikan Pelem Golek, Agus memiliki pengalaman mendirikan restoran dengan menu Sate Blora. Resto ini didirikannya di Jalan Jogonengaran tepatnya di sebelah timur Jalan Malioboro. Dalam mendirikan resto ini, Agus sudah menerapkan idealism menu sehat.
Nasib yang kurang beruntung dialami Agus dalam menyelami bisnis perdananya ini. Terhitung empat bulan setelah berdiri, resto inpun harus gulung tikar karena sepi pengunjung. Tak mau larut, Agus pun kembali menyelami bisnis yang sama. Bedanya kali ini dirinya hanya sebagai peyedia tempat untuk food court.
Food court ini berdiri di rumahnya di daerah Jalan Kaliurang KM 6,5 yang menyajikan ragam kuliner. Sayangnya nasib yang kurang beruntung masih belum berpihak kepada Agus. Dua tahun setelah berdiri, food court inipun harus tutup.
“Sempat drop juga waktu itu, karena setiap membuka usaha belum dipercaya oleh Tuhan untuk mengelola. Meski begitu saya percaya, Tuhan pasti selalu ada di samping saya dalam membuka usaha,” kenang Agus.
Cerita berlanjut ketika Agus mencoba bangkit kembali untuk membuka bisnis. Inilah awal perjuangannya dalam mendirikan Pelem Golek di jalan Palagan Tentara Pelajar, Sleman. Saat melihat tempat calon usahanya ini, Agus langsung jatuh cinta. Ini karena keadaaanya yang masih asri dan alami.
Di tempat ini masih ada rumpun bambu yang lebat dan rindang. Hijauan bambu inipun berpadu apik dengan aliuran kali Buntung yang mengalir jernih di sisi timur. Belum lagi formasi dari kali Buntung yang membentuk aliran air terjun mini di sisi utaranya.
“Kunci dari semua ini adalah semangat dan pantang menyerah dalam berusaha,” tegasnya. Menurutnya, cobaan pasti ada dalam melakoni semua usaha. Tujuannya agar bisa belajar untuk menjadi lebih baik. Selain itu harus jeli dalam memanfaatkan yang diberikan oleh alam. Itu juga menjadi salah satu kunci lainnya.(*/din)
Kuncinya Semangat dan Pantang Menyerah